• Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Profil
    Redaksi Hubungi Kami
  • Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Tentang Kami
  • Sejarah
  • Hubungi Kami
  1. Beranda
  2. Berita
  3. Pengelolaan Lalat Buah Untuk Mendukung Ekspor Mangga

Pengelolaan Lalat Buah Untuk Mendukung Ekspor Mangga

  • 30 September 2023, 11:12 AM
  • Buah, Budidaya, Agribisnis
  • Admin

Bandung, Hortiindonesia.com

Indonesia merupakan penghasil mangga yang selain dikonsumsi di dalam negeri juga diminati konsumen di luar negeri. Mangga selama ini diekspor ke China, Rusia, Australia, Timur Tengah, Korea Selatan, Eropa, dan  Amerika Serikat. Prof. Dr. Agus Susanto menyatakan hal ini pada Upacara Pengukuhan dan Orasi Ilmiah Jabatan Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Padjadajaran.

Data BPS menujukkan Jawa Barat merupakan produsen utama mangga di Indonesia dengan produksi tahun 2022 sebesar  451.174 ton, nomor 3 setelah Jawa Timur 1.593.494 ton dan Jawa Tengah 505.800 ton.  Total produksi tiga provinsi ini 2.550.468 ton atau 77% dari produksi mangga nasional yang mencapai 3.308.895 ton.

Menurut Agus, varietas mangga yang memiliki nilai ekonomi tinggi di Jawa Barat adalah Arumanis,  golek, manalagi, gedong gincu dan cengker. Sentra produksi mangga di Jawa Barat adalah Majalengka, Sumedang, Cirebon dan Indramayu. Mangga Gedong Gincu merupakan unggulan dengan warna kulit yang menarik, aroma kuat, dan memiliki banyak serat.

Peluang ekspor mangga Gedong Gincu ke Jepang belum bisa dipenuhi dengan kuantitas dan kualitas seperti yang disyaratkan. Permintaan Jepang berkisar  20.000-30.000 ton pertahun. Kendala utama ekspor mangga ke Jepang adalah infestasi lalat buah (Bactrocera occipitalis).

Jepang, Korsel, Australia, dan  Eropa menempatkan lalat buah sebagai organisme penganggu  tumbuhan karantina (OPTK) A1 yang sama sekali tidak boleh masuk. Lalat buah sangat berbahaya karena merusak produk hortikultura; memiliki presensi tanaman inang yang tinggi; memiliki kapasitas reproduksi yang tinggi, dan sulit dikendalikan.

Serangan Bactrocera spp. sampai saat ini belum bisa diatasi. Kementerian Pertanian beberapa waktu lalu lewat Badan Karantina Pertanian sudah mengumpulkan periset hama untuk bisa mengendalikan ini. Di Indonesia ada 280 species lalat buah, yang paling dominan  adalah Bactrocera dorsalis.

Lalat buah berdampak pada penurunan produksi dan mutu produk; kehilangan hasil sampai 100%; hambatan ekspor (persyaratan SPS-WTO) yaitu Jepang untuk komoditas mangga : Bactrocera occipitalis, Korea untuk mangga, Australia untuk salak, Selandia Baru untuk salak, China untuk salak dan mangga (B. dorsalia Complex).

Serangan lalat buah di Indonesia paling banyak menyerang cabai, kemudian jeruk dan ketiga mangga. Tahun 2021-2022 serangan lalat buah pada mangga menurun karena banyak inovasi pengendalian. Kerugian serangan lalat buah di Indonesia mencapai USD600 juta (Rp8,7 triliun) sedang jeruk USD500 juta..

Pengendalian lalat buah tidak mudah. Harus disurvei dulu species apa, bagaimana biologisnya, berapa populasinya, apa saja preperensi inangnya, baru ditentukan cara pengendalian dan efektivitasnya.


Baca Juga: Dukung Pengentasan Kemiskinan, Kementan Kembangkan Program BeKeRJa di Lombok Barat

Populasi  lalat buah tidak pernah berubah tergatung lingkungan biotik dan abiotik. Di Jawa Barat mangga arumanis paling disukai oleh lalat buah. Lalat buah menyerang mangga yang ada di pohon, pengepul dan pedagang yang menjual langung ke konsumen.

Pengendalian sanitasi  dengan mengumpulkan mangga yang jatuh akbat terinfeksi sehingga tidak membentuk pupa dalam tanah. Secara biologis dengan musuh alami, tetapi ada beberapa yang kurang efektif. Dengan umpan sehingga lalat buat tidak menyerang mangga.  Pemasangan alat perangkap yang dikombinasikan dengan pestisida. Atraktan yang menarik lalat buah seperti metil eugenol yang daya jankaunya sampai  ratusan meter dan tidak ada residu.

Larva ada dalam buah sehingga pengendalian yang paling baik adalah pencegahan. Banyaknya tanaman inang menyulikan pengendalian karena akan berpindah. Harus dilakukan pemantauan terus menerus dengan pemasangan perangkap. Kalau populasi terlalu tinggi maka harus dilakukan pengendalian secara intensif.

Metode pengendalian harus tepat, hemat waktu dan biaya dan hasilnya efektif. Dengan uji coba maka akan semakin baik metodenya juga semakin banyak yang dikendalikan. Penerapan strategi pengedalian bukan hanya pada kebun lokal kebun mangga saja tetapi meluas ke pertanaman lain di wilayah yang lebih luas (area wide management) dengan luas minimal 25 Ha.

Pengendalian lalat buah butuh waktu. Thailand perlu waktu 2-5 tahun untuk menurunkan populasi. Pengendalian hama terpadu perlu dukungan petani, pemerintah dan masyarakat sekitar.

“Jepang sudah menunggu mangga dari Indonesia. Harga mangga Jepang mencapai Rp50 juta/kg. Sedang gedong gincu maksmila Rp50.000/kg. Sayang kita belum bisa tembus standar Jepang untuk lalat buah meskipun mereka sudah turunkan standar. Saat ini  di Kabupaten  Sumedang sedang diterapkan model pengendalian lalat buah pada pertanaman mangga, registrasi kebun dan resi gudang. Selain itu akan ada pendampingan dari  Agriterra sebuah lembaga NGO dari Belanda, ,” kata Agus lagi.

 

 

 

 

Berita Terkait

WAJIB DICICIPI : DURIAN BAWOR ASLI BANYUMAS

  • 30 September 2023, 11:12 AM

Kementan Perluas Areal Tanam Bawang Putih di Lereng Gunung Wilis Tulungagung

  • 30 September 2023, 11:12 AM

Awal Kisah Pisang Mas Tanggamus Go Internasional

  • 30 September 2023, 11:12 AM

Brebes Panen Bawang Merah Setiap Hari

  • 30 September 2023, 11:12 AM

Berita Terpopuler

  • Keren, Aplikasi Ini Bisa Identifikasi Aneka Jenis Tanaman
    22 Januari 2019, 11:45 AM
  • Kenali Ragam Jenis Alpukat: Mentega, Miki, sampai Kendil
    07 Mei 2024, 1:00 PM
  • Kenali Tiga Tahap Fase Pertumbuhan Tanaman Jagung
    18 Maret 2024, 10:53 AM
  • Cara Menanam Pohon Mangga dan Tips Agar Cepat Berbuah
    29 April 2024, 11:31 AM
  • 10 Jenis Durian Terpopuler di Indonesia, Enak dan Legit!
    01 Oktober 2024, 3:58 PM
  • VARIETAS KENTANG YANG COCOK DIOLAH JADI KERIPIK
    06 November 2019, 4:25 PM
  • Menanam Stroberi dengan Sistem Hidroponik
    11 September 2018, 11:23 AM
  • Sunpride Pecahkan Rekor MURI untuk Pajangan Pisang Terbanyak
    02 Juni 2024, 5:11 PM
  • DIRIKAN INDUSTRI OLAHAN HORTIKULTURA UNTUK PRODUK GRADE RENDAH YANG TIDAK LAKU DI PASAR SEGAR
    19 Agustus 2024, 6:53 PM
  • PEMULIAAN UNTUK HASILKAN VUB JERUK
    18 Juni 2024, 1:11 AM

Kategori Berita

  • Buah
  • Sayur
  • Herbal
  • Tanaman Hias
  • Gaya Hidup
  • Tips & Trik
  • InovTek
  • Jelajah
  • Sosok
  • Etalase
© Hortikultura Indonesia 2018 - 2026. All Right Reserved