• Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Profil
    Redaksi Hubungi Kami
  • Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Tentang Kami
  • Sejarah
  • Hubungi Kami
  1. Beranda
  2. Berita
  3. ASPEK TRACEBILITY SANGAT PENTING UNTUK EKSPOR HORTIKULTURA KE JEPANG

ASPEK TRACEBILITY SANGAT PENTING UNTUK EKSPOR HORTIKULTURA KE JEPANG

  • 19 September 2021, 5:54 PM
  • Herbal, Tanaman Hias, Kilas

Jakarta, Hortiindonesia.com

Ekspor tanaman hias ke Jepang sebenarnya lebih mudah dibanding produk pertanian lain untuk pangan. Karena fungsinya untuk jiwa bukan makanan ,maka hanya tunduk pada UU Perlindungan Tanaman yang menjadi wewenang Kementerian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Jepang. Sedang untuk produk pertanian pangan juga harus tunduk UU Keamanan Pangan Dasar, UU Sanitasi Pangan, UU Promosi Kesehatan, UU terkait standarisasi pertanian dan UU label pangan yang merupakan kewenangan Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Jepang. Sri Nur yanti, Atase Pertanian KBRI Tokyo menyatakan hal ini.

Tanaman hias (florikultura) termasuk komoditas yang tidak perlu didahului kesepakatan antar pemerintah (G2G), bisa langsung diekspor (B2B). Beda dengan Pangan Segar Asal Tumbuhan (PSAT) yang menjadi inang organisme hama penyakit tumbuhan karantina pertanian yang dicegah masuk dan penyebarannya seperti mangga, alpukat, buah naga, manggis. Prosedurnya sangat panjang dan lama sebelum diizinkan masuk ke Jepang.

Hal yang sangat penting untuk ekspor ke Jepang adalah dipenuhi aspek tracebility (ketelurusan) . Prosedur karantina untuk tanaman hias berupa tanaman hidup  adalah harus diperiksa di lokasi budidaya  dan deklarasi bebas OPT dalam bentuk sertifikat fitosanitari. Sedang dalam bentuk bunga potong tidak harus melewati proses ini cukup sertifikat fitosanitari saja.

Masalahnya pada bulan November lalu ditemukan nematoda Radoppholus similis pada anthurium asal Cianjur yang diekspor ke Jepang. Akibatnya Jepang menghentikan impor dari Indonesia untuk semua jenis tanaman yang menjadi inang nematode ini sejak 11 November 2020.


Baca Juga: Industri Mawar di Hai’an China Berkembang, Dongkrak Wisata dan Pendapatan Warga

Untuk florikultura Pinang (Arecha catechu) , Cedar putih Meksiko (Cupresuss lusitanica), Anthurium, Maranta, Philodendron, Beta dan Bucefalandra Sp. Sedang untuk tanaman non florikultura, ekspor hortikultura yang dihentikan adalah jahe dan kunyit.

“Jepang sangat takut pada nematode Radoppholus similis ini karena bisa mempengaruhi keaneka ragaman hayati di sana.  Sertifikat fitosanitari untuk semua PST inang nematoda ini juga tidak diakui lagi selama belum ada perbaikan. Semua tanaman yang masuk akan dimusnahkan,” katanya.

Syarat perbaikannya adalah sebelum ditanam, media tanam atau tanahnya harus dipastikan dulu bebas nematoda ini juga bagian bawah tumbuhan diperiksa. Selama penanaman di wilayah yang belum diketahui atau sudah diketahui ada nematode Radoppholus similis wajib melakukan pemberantasan. Sebelum ekspor wajib diperiksa dengan pemeriksaan nematologis dan deklarasikan bebas dengan sertifikat fitosanitari.

Badan Karantina Pertanian sudah mengajukan perbaikan berupa metoda ultrasonografi untuk ekstraksi dan hot treatment. Saat ini Badan Karantina masih terus berdiskusi dengan otoritas karantina Jepang untuk mencari jalan keluar. Nanti kalau ekspor sudah diizinkan kembali maka bila selama ini pemeriksaan hanya akar saja, nanti bila ada maka akar, batang, daun, bunga, biji juga akan diperiksa.

Saat ini menurut Sri Nuryanti yang harus diperbaiki adalah aspek tracebility. Pertanyaan soal j  Radoppholus similis pada kunyit asal Kalimantan dan jahe asal Bandung belum bisa dijawab, membuktikan masih lemahnya aspek ini.

“Jadi sekarang kalau tujuannya untuk ekspor maka sejak awal harus ada dokumen penyiapan lahan/media tanam, bibit, penanaman dan pemeliharaan, panen, pasca panen, penyimpanan. Jadi bila ada kasus maka pemerintah akan mudah berhadapan dengan pemerintah Jepang,” katanya.

Berita Terkait

WAJIB DICICIPI : DURIAN BAWOR ASLI BANYUMAS

  • 19 September 2021, 5:54 PM

Kementan Perluas Areal Tanam Bawang Putih di Lereng Gunung Wilis Tulungagung

  • 19 September 2021, 5:54 PM

Awal Kisah Pisang Mas Tanggamus Go Internasional

  • 19 September 2021, 5:54 PM

Brebes Panen Bawang Merah Setiap Hari

  • 19 September 2021, 5:54 PM

Berita Terpopuler

  • Keren, Aplikasi Ini Bisa Identifikasi Aneka Jenis Tanaman
    22 Januari 2019, 11:45 AM
  • Kenali Ragam Jenis Alpukat: Mentega, Miki, sampai Kendil
    07 Mei 2024, 1:00 PM
  • Kenali Tiga Tahap Fase Pertumbuhan Tanaman Jagung
    18 Maret 2024, 10:53 AM
  • 10 Jenis Durian Terpopuler di Indonesia, Enak dan Legit!
    01 Oktober 2024, 3:58 PM
  • Cara Menanam Pohon Mangga dan Tips Agar Cepat Berbuah
    29 April 2024, 11:31 AM
  • VARIETAS KENTANG YANG COCOK DIOLAH JADI KERIPIK
    06 November 2019, 4:25 PM
  • Menanam Stroberi dengan Sistem Hidroponik
    11 September 2018, 11:23 AM
  • DIRIKAN INDUSTRI OLAHAN HORTIKULTURA UNTUK PRODUK GRADE RENDAH YANG TIDAK LAKU DI PASAR SEGAR
    19 Agustus 2024, 6:53 PM
  • Sunpride Pecahkan Rekor MURI untuk Pajangan Pisang Terbanyak
    02 Juni 2024, 5:11 PM
  • PEMULIAAN UNTUK HASILKAN VUB JERUK
    18 Juni 2024, 1:11 AM

Kategori Berita

  • Buah
  • Sayur
  • Herbal
  • Tanaman Hias
  • Gaya Hidup
  • Tips & Trik
  • InovTek
  • Jelajah
  • Sosok
  • Etalase
© Hortikultura Indonesia 2018 - 2026. All Right Reserved