• Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Profil
    Redaksi Hubungi Kami
  • Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Tentang Kami
  • Sejarah
  • Hubungi Kami
  1. Beranda
  2. Berita
  3. Sukun dan Masa Depan Ketahanan Pangan Indonesia

Sukun dan Masa Depan Ketahanan Pangan Indonesia

  • 24 April 2026, 12:38 PM
  • Agribisnis
  • HORTI INDONESIA

Jakarta, hortiindonesia.com - Ketahanan pangan bukan hanya soal ketersediaan beras, tetapi tentang kemampuan bangsa menyediakan sumber pangan yang beragam, bergizi, dan berkelanjutan. Di tengah dinamika perubahan iklim, alih fungsi lahan, serta pertumbuhan penduduk yang terus meningkat, Indonesia perlu memperkuat strategi diversifikasi pangan. Salah satu komoditas lokal yang memiliki potensi besar namun belum dimanfaatkan secara optimal adalah sukun (Artocarpus altilis).

Sukun telah lama tumbuh dan beradaptasi di wilayah tropis Indonesia. Tanaman ini dikenal luas sebagai bahan pangan olahan seperti gorengan atau keripik. Namun di beberapa daerah, seperti Kepulauan Sangir dan Talaud, sukun bahkan telah dikonsumsi sebagai pengganti nasi. Fakta ini menunjukkan bahwa secara historis dan kultural, sukun bukanlah komoditas baru dalam sistem pangan masyarakat Indonesia.

Berdasarkan publikasi Mari Mengenal Sukun yang diterbitkan Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura tahun 2014 ‘Mari Mengenal Sukun’, sukun memiliki kandungan karbohidrat yang cukup tinggi dan layak dikembangkan sebagai sumber energi alternatif. Dalam 100 gram buah sukun tua terkandung sekitar 28 gram karbohidrat dengan energi lebih dari 100 kalori.

Jika diolah menjadi tepung, kandungan karbohidratnya dapat mencapai hampir 79 gram per 100 gram bahan dengan energi sekitar 302 kalori. Nilai tersebut menjadikan sukun kompetitif dibandingkan beberapa sumber karbohidrat utama lainnya.
Selain sebagai sumber energi, sukun juga mengandung protein, vitamin A, vitamin C, kalsium, fosfor, dan zat besi. Kandungan gizi ini memperkuat posisinya sebagai pangan fungsional yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga mendukung kualitas konsumsi masyarakat. Pengolahan sukun menjadi tepung membuka peluang diversifikasi produk pangan, mulai dari roti, mie, kue, hingga bahan campuran pangan modern yang sesuai dengan selera generasi muda.


Baca Juga: Komisi IV DPR RI Dukung Total Temanggung Jadi Sentra Terbesar Bawang Putih

Dari sisi budidaya, sukun memiliki keunggulan adaptif yang signifikan. Tanaman ini mampu tumbuh pada berbagai jenis tanah, termasuk tanah aluvial, podzolik merah kuning, dan tanah berkapur. Sukun dapat berkembang dari dataran rendah hingga ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut, dengan suhu optimal antara 21 hingga 33 derajat Celsius serta curah hujan 1.500–2.500 mm per tahun. Bahkan pada kondisi lahan yang relatif kering, tanaman dewasa masih dapat berproduksi dengan baik. Dengan umur produktif yang panjang dan kemampuan berbuah selama puluhan tahun, sukun berpotensi menjadi cadangan pangan jangka panjang yang stabil.

Secara morfologis, sukun merupakan pohon besar dengan tajuk rindang dan tinggi mencapai 15 hingga 30 meter. Buahnya berbentuk bulat hingga lonjong, dengan diameter 12–20 cm dan panjang 12–30 cm. Struktur buah majemuk yang terbentuk dari ribuan bunga menghasilkan daging buah yang padat dan kaya pati. Selain buahnya, kayu sukun juga memiliki nilai ekonomi dan dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, sehingga tanaman ini berpotensi dikembangkan dalam sistem agroforestri yang berkelanjutan.

Penguatan peran sukun dalam ketahanan pangan nasional memerlukan dukungan sistem perbenihan dan budidaya yang terstandar. Karena umumnya tidak berbiji, sukun diperbanyak secara vegetatif melalui stek akar, stek batang, sambung pucuk, maupun cangkok. Metode stek akar menjadi teknik yang paling banyak diterapkan karena secara alami akar sukun mampu membentuk tunas baru dalam jumlah cukup banyak. Dengan manajemen pembibitan yang baik, bibit sukun dapat diproduksi secara massal dan seragam untuk mendukung perluasan areal tanam.

Sobat Horti, masa depan ketahanan pangan Indonesia tidak bisa hanya bertumpu pada satu komoditas. Diperlukan keberanian untuk mengembangkan sumber pangan lokal yang adaptif, produktif, dan bernilai gizi tinggi. Sukun memenuhi kriteria tersebut. Dengan dukungan kebijakan, riset berkelanjutan, serta sinergi antara peneliti, petani, dan pelaku industri, sukun dapat ditransformasi dari pangan tradisional menjadi komoditas strategis nasional.

Jika dikelola secara terintegrasi dari hulu hingga hilir, sukun bukan hanya menjadi alternatif pengganti beras, tetapi juga simbol kemandirian pangan berbasis potensi lokal. Di situlah letak relevansinya dalam membangun masa depan ketahanan pangan Indonesia yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Berita Terkait

WAJIB DICICIPI : DURIAN BAWOR ASLI BANYUMAS

  • 24 April 2026, 12:38 PM

Kementan Perluas Areal Tanam Bawang Putih di Lereng Gunung Wilis Tulungagung

  • 24 April 2026, 12:38 PM

Awal Kisah Pisang Mas Tanggamus Go Internasional

  • 24 April 2026, 12:38 PM

Brebes Panen Bawang Merah Setiap Hari

  • 24 April 2026, 12:38 PM

Berita Terpopuler

  • Keren, Aplikasi Ini Bisa Identifikasi Aneka Jenis Tanaman
    22 Januari 2019, 11:45 AM
  • Kenali Ragam Jenis Alpukat: Mentega, Miki, sampai Kendil
    07 Mei 2024, 1:00 PM
  • Kenali Tiga Tahap Fase Pertumbuhan Tanaman Jagung
    18 Maret 2024, 10:53 AM
  • 10 Jenis Durian Terpopuler di Indonesia, Enak dan Legit!
    01 Oktober 2024, 3:58 PM
  • Cara Menanam Pohon Mangga dan Tips Agar Cepat Berbuah
    29 April 2024, 11:31 AM
  • VARIETAS KENTANG YANG COCOK DIOLAH JADI KERIPIK
    06 November 2019, 4:25 PM
  • Menanam Stroberi dengan Sistem Hidroponik
    11 September 2018, 11:23 AM
  • DIRIKAN INDUSTRI OLAHAN HORTIKULTURA UNTUK PRODUK GRADE RENDAH YANG TIDAK LAKU DI PASAR SEGAR
    19 Agustus 2024, 6:53 PM
  • Sunpride Pecahkan Rekor MURI untuk Pajangan Pisang Terbanyak
    02 Juni 2024, 5:11 PM
  • PEMULIAAN UNTUK HASILKAN VUB JERUK
    18 Juni 2024, 1:11 AM

Kategori Berita

  • Buah
  • Sayur
  • Herbal
  • Tanaman Hias
  • Gaya Hidup
  • Tips & Trik
  • InovTek
  • Jelajah
  • Sosok
  • Etalase
© Hortikultura Indonesia 2018 - 2026. All Right Reserved