• Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Profil
    Redaksi Hubungi Kami
  • Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Tentang Kami
  • Sejarah
  • Hubungi Kami
  1. Beranda
  2. Berita
  3. Kacang Koro Pedang: Solusi Lokal untuk Kurangi Impor Kedelai

Kacang Koro Pedang: Solusi Lokal untuk Kurangi Impor Kedelai

  • 15 Mei 2025, 1:42 PM
  • Budidaya
  • HORTI INDONESIA

Depok, hortiindonesia.com – Di tengah meningkatnya kebutuhan akan bahan baku pangan berbasis kacang-kacangan, budidaya kacang koro pedang ternyata dapat menjadi alternatif yang menjanjikan.  Di atas lahan seluas tiga hektar di Depok, Aldi Prahasta yang merupakan seorang agronomis dari PT Jack Bean Indonesia telah membuktikan bahwa kacang koro bukan hanya potensial, tetapi juga menguntungkan. 

Kisah budidaya kacang koro pedang ini bermula dari keprihatinan akan tingginya volume impor kedelai. Dari hasil penelitian, jurnal, dan artikel yang dibacanya, ia menemukan bahwa kacang koro memiliki profil gizi yang sebanding dengan kedelai. Bahkan mempunyai keunggulan dalam hal ketahanan tumbuh di berbagai jenis lahan.

“Tanaman ini mudah dibudidayakan. Tidak memerlukan perawatan mahal, dan bisa tumbuh di berbagai kondisi tanah, bahkan di tanah berpasir sekalipun,” ungkap Aldi Prahasta dalam wawancara bersama Horti Indonesia.

Tanaman yang Tumbuh di Segala Kondisi

Sebagai seseorang yang aktif terlibat menjadi agronomis dan pendamping petani di lapangan, ia menjelaskan bahwa kacang koro dikenal sebagai tanaman yang adaptif dan tangguh. Meskipun semua jenis tanah bisa digunakan untuk menanam koro, jenis tanah yang paling ideal adalah tanah gembur dengan pH netral (6–7) dan drainase baik. Selain itu, iklim tropis dengan curah hujan cukup dan musim kemarau pendek menjadi kondisi terbaik untuk pertumbuhan tanaman ini.

“Musim kemarau yang pendek dan curah hujan cukup menjadi kondisi iklim yang paling ideal untuk kacang koro pedang,” jelasnya.

Masa tanam hingga panen berlangsung sekitar empat bulan. Dalam satu musim, hasil panen dari satu hektar lahan bisa mencapai minimal dua ton biji koro, dan bisa lebih dari empat ton jika perawatan dan pemupukan dilakukan secara maksimal.

Meski relatif mudah dirawat, bagian paling krusial dalam budidaya kacang koro pedang terletak pada proses pemangkasan atau prunning daun dan cabang yang tidak diperlukan. Hal ini penting untuk mengarahkan pertumbuhan dan meningkatkan produktivitas.

“Hal yang paling krusial adalah saat proses pemangkasan atau prunning, di mana daun dan cabang yang tidak produktif harus dibuang agar pertumbuhan maksimal,” jelasnya.


Baca Juga: Stabilkan Harga Bawang, Kementan Gelar Operasi Pasar

Bahan Pangan Alternatif

Hasil panen kacang koro pedang dari kebunnya dan petani yang bermitra digunakan sebagai bahan campuran untuk membuat abon. Biji koro yang sudah kering dan dikupas dijual ke salah satu pabrik abon di Boyolali yang menjadi pembeli utamanya.

Ia menjelaskan bahwa penggunaan kacang koro dalam abon bisa mencapai 40% dari total bahan baku. Kandungan rasa dan teksturnya yang khas membuat kacang ini menjadi pilihan dalam memperkaya olahan abon daging.

“Saat ini, kami memasok hasil panen ke pabrik abon di Boyolali. Kacang koro digunakan sebagai campuran bahan baku abon karena memberi rasa gurih dan tekstur renyah,” ujarnya.

Prospek Usaha dan Potensi Pasar

Pasar kacang koro memang belum sepenuhnya berkembang secara nasional. Eksistensinya sempat naik daun pada era 2006–2009, namun tidak berlanjut karena minimnya dukungan lanjutan dari pemerintah.

“Dulu pemerintah mempunyai program pembagian benih kacang koro kepada petani, tetapi tidak ada tindak lanjutnya dari pemerintah,” jelasnya.

Kini meski belum banyak yang menanam kacang koro secara luas, namun permintaan tetap ada. Dalam satu minggu, permintaan bisa mencapai satu ton. Ia optimis jika dukungan dan perhatian lebih diberikan oleh pemerintah maka komoditas ini bisa berjaya.

Terlebih lagi kandungan gizinya yang mirip kedelai dapat dijadikan sebagai alternatif pangan yang layak untuk diolah menjadi tempe, keripik tempe, hingga abon. Salah satu pelaku UMKM yang dikenalnya di Wonogiri bahkan sudah mengolah koro menjadi produk makanan siap saji seperti tempe bacem.

Lebih jauh, ia melihat peluang besar kacang koro untuk masuk ke pasar ekspor. Beberapa literatur bahkan menyebut kacang koro dengan nama jack bean malah cukup dikenal di luar negeri.

Berita Terkait

WAJIB DICICIPI : DURIAN BAWOR ASLI BANYUMAS

  • 15 Mei 2025, 1:42 PM

Kementan Perluas Areal Tanam Bawang Putih di Lereng Gunung Wilis Tulungagung

  • 15 Mei 2025, 1:42 PM

Awal Kisah Pisang Mas Tanggamus Go Internasional

  • 15 Mei 2025, 1:42 PM

Brebes Panen Bawang Merah Setiap Hari

  • 15 Mei 2025, 1:42 PM

Berita Terpopuler

  • Keren, Aplikasi Ini Bisa Identifikasi Aneka Jenis Tanaman
    22 Januari 2019, 11:45 AM
  • Kenali Ragam Jenis Alpukat: Mentega, Miki, sampai Kendil
    07 Mei 2024, 1:00 PM
  • Kenali Tiga Tahap Fase Pertumbuhan Tanaman Jagung
    18 Maret 2024, 10:53 AM
  • Cara Menanam Pohon Mangga dan Tips Agar Cepat Berbuah
    29 April 2024, 11:31 AM
  • 10 Jenis Durian Terpopuler di Indonesia, Enak dan Legit!
    01 Oktober 2024, 3:58 PM
  • VARIETAS KENTANG YANG COCOK DIOLAH JADI KERIPIK
    06 November 2019, 4:25 PM
  • Menanam Stroberi dengan Sistem Hidroponik
    11 September 2018, 11:23 AM
  • Sunpride Pecahkan Rekor MURI untuk Pajangan Pisang Terbanyak
    02 Juni 2024, 5:11 PM
  • DIRIKAN INDUSTRI OLAHAN HORTIKULTURA UNTUK PRODUK GRADE RENDAH YANG TIDAK LAKU DI PASAR SEGAR
    19 Agustus 2024, 6:53 PM
  • PEMULIAAN UNTUK HASILKAN VUB JERUK
    18 Juni 2024, 1:11 AM

Kategori Berita

  • Buah
  • Sayur
  • Herbal
  • Tanaman Hias
  • Gaya Hidup
  • Tips & Trik
  • InovTek
  • Jelajah
  • Sosok
  • Etalase
© Hortikultura Indonesia 2018 - 2026. All Right Reserved