• Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Profil
    Redaksi Hubungi Kami
  • Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Tentang Kami
  • Sejarah
  • Hubungi Kami
  1. Beranda
  2. Berita
  3. BERCAK DAUN, OPT UTAMA JAHE SAAT INI

BERCAK DAUN, OPT UTAMA JAHE SAAT INI

  • 02 Agustus 2021, 11:23 AM
  • Herbal, Kilas, Budidaya

Bogor, Hortiindonesia.com

Jahe merupakan komoditas yang sangat dicari pada masa pandemi ini. Tahun lalu harga sempat naik dari Rp30.000/kg menjadi Rp100.000/kg. Hal ini karena hasil penelitian menunjukkan jahe mempunyai banyak manfaat yaitu menaikkan imunitas, kadar antioksidannya tinggi, anti inflamasi juga anti mikroba termasuk bakteri dan virus. Evi Savitri, Kepala Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Pusat Penelitian  dan Pengembangan Perkebunan, Balitbang Kementan menyatakan hal ini.

Saat ini produktivitas jahe sekitar 5 ton/ha/tahun padahal beberapa varietas unggul yang sudah dilepas balittro potensi produksinya tinggi yaitu jahe putih besar (jahe gajah) 20 ton/ha/tahun, jahe putih kecil (jahe emprit) dan jahe merah 10 ton/ha/tahun.

Penyebab rendahnya produktivitas terdiri dari berbagai faktor seperti terbatasnya benih unggul, teknologi budidaya belum optimal, teknologi pasca panen belum diterapkan, serangan OPT , perubahan iklim dan penurunan kesuburan tanah.

Tahun lalu karena tingginya permintaan Indonesia sempat jadi impotir jahe padahal sebelumnya merupakan eksportir. Salah satu masalah utama jahe adalah OPT. Serangan OPT bisa menurunkan produksi, bahkan tidak menghasilkan dan tanaman bisa mati. OPT utama tanaman jahe adalah bercak daun, layu bakteri dan hama lalat rimpang, hama kutu dan nematoda.

Marina Puspita Sari,  peneliti penyakit tanaman Balittro, menyatakan OPT merupakan salah satu kendala utama dan titik kritis tanaman jahe. Penyakit utama adalah layu bakteri yang menyebabkan tanaman mati, nematode yang menyebabkan tanaman kerdil dan yang sekarang sedang merebak dimana-mana adalah bercak daun. Meskipun tidak mematikan tetapi produksi jahe turun drastis karena fotosintetis terhambat. Penyebanya adalah cendawan Cercospora, Phakosphora, Phylosticta, Pyricularia.

Survei  tahun 2009  menunjukkan  insidensi Phyliostica  di Jabar 7,4-97,5%, Jateng 0-4,8 %, Bengkulu 0-60,9 %; Cercospora  d Jabar 13,6-98,5%, Jateng 0-63,9%, Bengkulu 0-92%. Phakosphora  di Jabar 0-18,7% , Jateng 0%, Bengkulu 0-64,3%; Pyricularia Jabar 0-1,4%, jateng 0-37,7,% Bengkulu 0-92,2%. Kondisi lingkungan, umur tanaman dan jenis jahe yang ditanam mempengaruhi kerusakan dan jenis cendawan yang dominan di suatu daerah.

Phylostica menyerang jahe muda unur dibawah 5 bulan, sedang Pyricularia mulai ada di Indonesia  tahun 2020 menginfeksi  jahe putih dan merah,  hanya jahe merah lebih tahan. Cercospora menyerang tanaman tua.


Baca Juga: Kawasan Korporasi Pendorong Ekspor Hortikultura

 Penyebaran  cendawan didominasi oleh angin kemudian  aliran air. Untuk Phylosticta diduga oleh rimpang juga sebab tanaman umur sebulan sudah terserang. Pengendalian tidak bisa dilakukan secara individu tetapi dilakukan bersama-sama dalam satu hamparan. Kalau hanya mengendalikan di kebun sendiri sedang kebun sekitarnya tidak maka akan terserang lagi dari kebun sekitarnya.

Varietas tahan cendawan ini belum ada sedang varietas yang toleran masih dalam pengembangan. Pengendalian dengan kultur teknis yaitu sanitasi dengan membuang tanaman terserang atau daun gugur jauh dari penanaman jahe. Pemupukan dilakukan berimbang sesuai SOP. Kelembaban diatur dengan memperhatikan jarak tanam dan menjaga jangan sampai naungan berlebihan. Tanah diolah dengan drainase baik sehingga tidak ada air menggenang dan tidak lembab. Penggunaan mulsa untuk mengurangi penguapan air sehingga tanaman tidak terhidrasi dan lebih tahan terhadap infeksi.

Pengendalian dengan fungsisida kontak, untuk pestisida nabati menggunakan bahan aktif minyak cengkeh atau serai dapur, sedang fungisida kimia menggunakan bahan aktif mankozeb.  Waktu aplikasi dan kemampuan fungisida bertahan pada permukaan daun menjadi krusial dalam pengendalian.  Aplikasi harus tepat waktu dan interval.  Penelitian di laboratorium menunjukkan koloni cendawan tidak tumbuh dengan minyak cengkeh, sedang mankozeb tumbuh tapi tipis.

Selain kultur teknis hal yang paling penting adalah monitoring. Segera kendalikan bila mulai ada yang bergejala. Bila terlambat akan sulit dikendalikan karena dengan cepat menyebar.

 

                                                                                                                                                       

 

 

Berita Terkait

WAJIB DICICIPI : DURIAN BAWOR ASLI BANYUMAS

  • 02 Agustus 2021, 11:23 AM

Kementan Perluas Areal Tanam Bawang Putih di Lereng Gunung Wilis Tulungagung

  • 02 Agustus 2021, 11:23 AM

Awal Kisah Pisang Mas Tanggamus Go Internasional

  • 02 Agustus 2021, 11:23 AM

Brebes Panen Bawang Merah Setiap Hari

  • 02 Agustus 2021, 11:23 AM

Berita Terpopuler

  • Keren, Aplikasi Ini Bisa Identifikasi Aneka Jenis Tanaman
    22 Januari 2019, 11:45 AM
  • Kenali Ragam Jenis Alpukat: Mentega, Miki, sampai Kendil
    07 Mei 2024, 1:00 PM
  • Kenali Tiga Tahap Fase Pertumbuhan Tanaman Jagung
    18 Maret 2024, 10:53 AM
  • 10 Jenis Durian Terpopuler di Indonesia, Enak dan Legit!
    01 Oktober 2024, 3:58 PM
  • Cara Menanam Pohon Mangga dan Tips Agar Cepat Berbuah
    29 April 2024, 11:31 AM
  • VARIETAS KENTANG YANG COCOK DIOLAH JADI KERIPIK
    06 November 2019, 4:25 PM
  • Menanam Stroberi dengan Sistem Hidroponik
    11 September 2018, 11:23 AM
  • DIRIKAN INDUSTRI OLAHAN HORTIKULTURA UNTUK PRODUK GRADE RENDAH YANG TIDAK LAKU DI PASAR SEGAR
    19 Agustus 2024, 6:53 PM
  • Sunpride Pecahkan Rekor MURI untuk Pajangan Pisang Terbanyak
    02 Juni 2024, 5:11 PM
  • PEMULIAAN UNTUK HASILKAN VUB JERUK
    18 Juni 2024, 1:11 AM

Kategori Berita

  • Buah
  • Sayur
  • Herbal
  • Tanaman Hias
  • Gaya Hidup
  • Tips & Trik
  • InovTek
  • Jelajah
  • Sosok
  • Etalase
© Hortikultura Indonesia 2018 - 2026. All Right Reserved