• Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Profil
    Redaksi Hubungi Kami
  • Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Tentang Kami
  • Sejarah
  • Hubungi Kami
  1. Beranda
  2. Berita
  3. Brokoli, ”Si Hijau Ikal” Cegah Kanker

Brokoli, ”Si Hijau Ikal” Cegah Kanker

  • 11 September 2018, 11:33 AM
  • Herbal, Sayur
  • HORTI INDONESIA

Jakarta - Di Amerika pada tahun 2002 terdiagnosis sebanyak 189.000 penderita dan pada tahun yang sama diketahui terdapat sekira 30.200 penderita meninggal dunia akibat kanker prostat. Jumlah tersebut sama dengan 10 kali jumlah korban runtuhnya WTC di New York. Pengobatan dapat dilakukan dengan radioterapi. Dokter dan pasien lebih suka menggunakan cara radiasi, namun alat radioterapi masih cukup mahal. Adakah cara pencegahan sebelum kanker itu datang?

Ilmuwan Ohio State University Amerika Serikat berhasil mengisolasi kandungan isothiocyanates aktif antikanker yang ada di dalam brokoli. Uji coba di laboratorium menunjukkan bahan aktif yang terbentuk dari glucosionolates ketika dicerna ini menghambat pertumbuhan sel kanker.

Penelitian selama enam tahun yang dilakukan oleh para ahli di Harvard State University dan Ohio State University menemukan laki-laki yang memakan brokoli dua kali atau lebih selama sepekan kecil kemungkinannya terkena kanker kandung kemih dibandingkan mereka yang hanya makan brokoli sekali dalam seminggu.

“Kita mulai mengamati senyawa apa dalam brokoli yang bisa menghambat atau memperlambat pertumbuhan sel kanker,” ujar Steven Schwartz, guru besar teknologi pangan dari Ohio State University. Schwartz dan rekannya kemudian mengisolasi senyawa yang disebut glucosiolates dari kecambah brokoli. Pada saat dikunyah dan kemudian dicerna, fitokimia ini berubah menjadi isothiocyanates, senyawa yang dipercaya oleh para ilmuwan dapat berperan dalam menghambat pertumbuhan sel kanker.

Terbukti, paling tidak dalam uji laboratorium, isothiocyanates menghambat pertumbuhan sel kanker dan pengaruh paling besar terjadi pada sel kanker kendung kemih dan paling agresif. Pertama mengekstrak dan mengukur jumlah kandungan glucosinolates dari kecamba brokoli. Kemudian mereka mengubah glucosinolates menggunakan proses enzim menjadi isothiocyanates. “Secara alami brokoli muda memang mengandung konsentrasi fitokimia lebih tinggi dibandingkan brokoli yang sudah tumbuh besar, tetapi memakan brokoli yang besar juga memberikan manfaat untuk kesehatan,” ujar Schwartz.


Baca Juga: APRESIASI BUAH LOKAL, MENTAN SYAHRUL KUNJUNGI KEBUN DURIAN WARSO FARM

Schwartz dan rekannya memberikan glucosinolates dan isothiocyanates dalam jumlah tertentu ke tiga jenis sel kanker yaitu dua jenis sel kanker kandung kemih manusia dan satu jenis sel kanker tikus. Para ilmuwan sudah mengetahui bahan aktifnya adalah isothiocyanates, tetapi mereka juga ingin tahu apakah glucosinolates memberikan pengaruh pada pertumbuhan sel kanker. Ternyata senyawa glucosinolates tidak berdampak pada sel kanker.

Sedangkan isothiocyanates terbukti menurunkan pertumbuhan tiga jenis sel kanker dalam percobaan, pengaruh paling kuat justru terjadi pada sel kanker manusia yang paling ganas. Para ahli tidak yakin apa penyebabnya atau bagaimana persisnya senyawa ini menjaga sel kanker tidak tumbuh. Dan tim peneliti belum yakin bahwa isothiocyanates merupakan satu-satunya senyawa dalam brokoli yang berkerja sebagai antikanker.

Kecurigaan Schwartz terbukti, hasil riset IRF (Institut Penelitian Makanan) Inggris menunjukkan, brokoli yang berwarna hijau itu, memiliki senyawa kimia lain selain isothiocyanates, senyawa tersebut bernama sulforaphane yang dipercaya bisa menahan efek berkelanjutan dari kanker. Bila kita bisa memproduksi brokoli dengan kualitas tinggi, maka unsur kimia yang disebutkan tadi juga akan berkapasitas dan berdaya guna lebih besar. “Mengkonsumsi brokoli dengan kadar sulforaphane tinggi, kemungkinan para penderita kanker bisa lebih minimal mengalami potensi kesakitan,” ujar Profesor Richard Mithen Koordinator Penelitian dari IRF Inggris.

Penelitian lainnya yang dilakukan James D. Brooks dan koleganya yang berjudul Potent Induction of Phase 2 Enzymes in Human Prostate Cells by Sulforaphane menunjukkan bahwa sulforaphane menyebabkan ekspresi fase 2 enzim dan mengaktifkannya dalam sel prostat manusia. Penelitian ini dapat membantu menjelaskan rendahnya risiko kanker prostat pada laki-laki yang banyak mengkonsumsi sayuran famili Cruciferae, terutama brokoli.

Brokoli dikenal sebagai keluarga sayuran jenis kubis-kubisan (cruciferae) yang memiliki ciri daun dan bunga berbentuk vas bunga. Bunganya terdapat dalam tandan yang muncul dari ujung batang atau tunas. Sayuran crucifera atau brassicaceae meliputi beberapa genus di antaranya kubis, petsai, sawi dan lobak.*** (DG)

Berita Terkait

WAJIB DICICIPI : DURIAN BAWOR ASLI BANYUMAS

  • 11 September 2018, 11:33 AM

Kementan Perluas Areal Tanam Bawang Putih di Lereng Gunung Wilis Tulungagung

  • 11 September 2018, 11:33 AM

Awal Kisah Pisang Mas Tanggamus Go Internasional

  • 11 September 2018, 11:33 AM

Brebes Panen Bawang Merah Setiap Hari

  • 11 September 2018, 11:33 AM

Berita Terpopuler

  • Keren, Aplikasi Ini Bisa Identifikasi Aneka Jenis Tanaman
    22 Januari 2019, 11:45 AM
  • Kenali Ragam Jenis Alpukat: Mentega, Miki, sampai Kendil
    07 Mei 2024, 1:00 PM
  • Kenali Tiga Tahap Fase Pertumbuhan Tanaman Jagung
    18 Maret 2024, 10:53 AM
  • 10 Jenis Durian Terpopuler di Indonesia, Enak dan Legit!
    01 Oktober 2024, 3:58 PM
  • Cara Menanam Pohon Mangga dan Tips Agar Cepat Berbuah
    29 April 2024, 11:31 AM
  • VARIETAS KENTANG YANG COCOK DIOLAH JADI KERIPIK
    06 November 2019, 4:25 PM
  • Menanam Stroberi dengan Sistem Hidroponik
    11 September 2018, 11:23 AM
  • DIRIKAN INDUSTRI OLAHAN HORTIKULTURA UNTUK PRODUK GRADE RENDAH YANG TIDAK LAKU DI PASAR SEGAR
    19 Agustus 2024, 6:53 PM
  • Sunpride Pecahkan Rekor MURI untuk Pajangan Pisang Terbanyak
    02 Juni 2024, 5:11 PM
  • PEMULIAAN UNTUK HASILKAN VUB JERUK
    18 Juni 2024, 1:11 AM

Kategori Berita

  • Buah
  • Sayur
  • Herbal
  • Tanaman Hias
  • Gaya Hidup
  • Tips & Trik
  • InovTek
  • Jelajah
  • Sosok
  • Etalase
© Hortikultura Indonesia 2018 - 2026. All Right Reserved