• Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Profil
    Redaksi Hubungi Kami
  • Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Tentang Kami
  • Sejarah
  • Hubungi Kami
  1. Beranda
  2. Berita
  3. BUAH PASTI MENSEJAHTERAKAN PETANI ASAL DALAM BENTUK ESTATE TERPADU

BUAH PASTI MENSEJAHTERAKAN PETANI ASAL DALAM BENTUK ESTATE TERPADU

  • 06 Desember 2020, 6:59 PM
  • Buah, Kilas, Budidaya, Agribisnis

Jakarta, Hortiindonesia.com

Indonesia merupakan pasar buah yang luar biasa. Konsumsi buah Indonesia mencapai 6,6 juta ton/tahun atau nilai perdagangannya mencapai Rp150 triliun. Martin Winar Widjaja, pendiri  beberapa perusahaan estate buah  dan perdagangan buah di Indonesia menyatakan hal ini.

Buah yang paling banyak di konsumsi adalah pisang 17%,   apel 10%, jeruk 8%, mangga 8%, rambutan 6%,  semangka 5%, salak 5%, pepaya 4%, alpukat 4%, melon 4%, nanas 3%, jambu 3%, lainya 23%. “Ini merupakan pasar yang sangat besar dan  luar biasa. Jika digarap dengan baik maka pasti mampu mensejahterakan petani dan semua pihak yang terlibat dalam perdagangan buah,” katanya. 

Martin yang 18 tahun menjadi direktur di perkebunan dan perdagangan buah dengan merek sunpride, kemudian pensiun dini dan mendirikan sendiri beberapa estate dan perdagangan buah ini menyatakan syaratnya buah itu harus dikelola dalam bentuk estate secara terpadu, seperti perusahaan perkebunan..

“Kalau  ditanam dimana saja dengan varietas yang beragam, tidak dikoordinasikan maka akan tetap menjadi buah pekarangan saja buat hobi, tetapi tidak bisa dikomersialkankan. Kalau  ingin  dikomersialkan  baik untuk pasar maupun ekspor nasional maka mutlak harus estate. Contohnya pisang, nanas, melon dalam dengan merek sunpride.  Sekarang saya sedang mengembangkan pisang, melon, pepaya dengan merek manise,” katanya.

Perusahaan yang didirikan Martin dan sekarang sudah operasional adalah   Coco Delight, perusahaan perkebunan kelapa terpadu yang menanam kelapa bernilai tinggi yaitu kelapa kopyor dan pandan wangi dan mendistribusikan langsung ke konsumen.  Manise perusahaan perdagangan dan distribusi pisang nusantara yaitu pisang canvendish, barangan hasil membina petani, sudah ada hampir di semua pedagang eceran buah Jabodetabek.


Baca Juga: Buang Cabai di Jalan, Petani Demak Minta Maaf

 Go Fruit toko buah lengkap baik off line atau online. Java Fruit yang lahir karena banyak orang kehilangan pekerjaan di satu sisi dan sisi lain banyak petani yang minta buahnya dipasarkan karena ketika pandemi, pengepul banyak yang berhenti memasok supermarket sehingga ikut berhenti membeli. Perusahaan ini merupakan platform bagi reseller buah. Situ Waringin Agro, merupakan fruit estate sebagai showcase (demplot) yang bisa langsung dilihat untuk mencari pendanaan. Perusahaan ini lahir karena sebagai pedagang pisang sering mengalami kekurangan pasokan.

Kiat mengembangkan buah bukan mulai dari menanam dulu tetapi  dari pasarnya dulu. Apakah pasar yang dibidik ekspor atau lokal. Kalau pasar lokal, dimana saja daerahnya dan berapa kapasitasnya. Dari situ maka dipilihlah lokasi penanaman dan stake holder yang terlibat siapa saja. “Kalau mau dimulai dari produksi kesulitannya adalah mendapatkan petani,” katanya.

Kemudian jenis buah yang dipilih adalah yang memberikan keuntungan tertinggi (high value). Pisang misalnya biaya produksi dikebun Rp1.500/kg tetapi konsumen punya kemampuan membeli sampai Rp20.000/kg, sampai 13 kali lipat. Semangka tidak terlalu tertinggi, biaya produksi di kebun Rp700/kg sedang kemampuan beli konsumen Rp3000/kg.

Selanjutnya pilih yang volume penjualannya besar. Pengembangan kebun buah jika ditangani dengan tekun volumenya bisa terus ditingkatkan. Pilih buah yang berproduksi sepanjang tahun. “Tetapi tidak berarti yang berbuah musiman tidak bisa dikembangkan. Apel Fuji China misalnya hanya bisa dipanen pada minggu ke2 dan 3 bulan Oktober sebelum musim dingin. Tetapi produktivitasnya yang tinggi 35 ton/ha membuat panen melimpah dan disimpan di ruangan berpendingin sehingga mampu memenuhi kebutuhan sepanjang tahun,” kata Martin.

Modal kalau tidak terlalu besar maka pilih buah yang bisa dipanen dibawah satu tahun. Kalau modalnya cukup besar maka bisa kembangkan tanaman tahunan seperti kelapa, alpukat , durian. “Di Indonesia sedikit sekali kebun buah skala besar 2000-3000 ha karena masalah modal dan kepastian pasar,” katanya.

Hal yang sangat penting yang harus diperhatikan adalah kesesuaian iklim dan ketersediaan sumber air. Banyak yang memaksakan menanam buah skala komersial bukan dilokasi yang iklimnya cocok sehingga hasilnya tidak maksimal. Sumber air mutlak, kalau tidak ada atau tidak cukup pasti akan kesulitan.

 

Berita Terkait

WAJIB DICICIPI : DURIAN BAWOR ASLI BANYUMAS

  • 06 Desember 2020, 6:59 PM

Kementan Perluas Areal Tanam Bawang Putih di Lereng Gunung Wilis Tulungagung

  • 06 Desember 2020, 6:59 PM

Awal Kisah Pisang Mas Tanggamus Go Internasional

  • 06 Desember 2020, 6:59 PM

Brebes Panen Bawang Merah Setiap Hari

  • 06 Desember 2020, 6:59 PM

Berita Terpopuler

  • Keren, Aplikasi Ini Bisa Identifikasi Aneka Jenis Tanaman
    22 Januari 2019, 11:45 AM
  • Kenali Ragam Jenis Alpukat: Mentega, Miki, sampai Kendil
    07 Mei 2024, 1:00 PM
  • Kenali Tiga Tahap Fase Pertumbuhan Tanaman Jagung
    18 Maret 2024, 10:53 AM
  • 10 Jenis Durian Terpopuler di Indonesia, Enak dan Legit!
    01 Oktober 2024, 3:58 PM
  • Cara Menanam Pohon Mangga dan Tips Agar Cepat Berbuah
    29 April 2024, 11:31 AM
  • VARIETAS KENTANG YANG COCOK DIOLAH JADI KERIPIK
    06 November 2019, 4:25 PM
  • Menanam Stroberi dengan Sistem Hidroponik
    11 September 2018, 11:23 AM
  • DIRIKAN INDUSTRI OLAHAN HORTIKULTURA UNTUK PRODUK GRADE RENDAH YANG TIDAK LAKU DI PASAR SEGAR
    19 Agustus 2024, 6:53 PM
  • Sunpride Pecahkan Rekor MURI untuk Pajangan Pisang Terbanyak
    02 Juni 2024, 5:11 PM
  • PEMULIAAN UNTUK HASILKAN VUB JERUK
    18 Juni 2024, 1:11 AM

Kategori Berita

  • Buah
  • Sayur
  • Herbal
  • Tanaman Hias
  • Gaya Hidup
  • Tips & Trik
  • InovTek
  • Jelajah
  • Sosok
  • Etalase
© Hortikultura Indonesia 2018 - 2026. All Right Reserved