• Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Profil
    Redaksi Hubungi Kami
  • Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Tentang Kami
  • Sejarah
  • Hubungi Kami
  1. Beranda
  2. Berita
  3. Ekstrak Mimba dan Minyak Selasih Dorong Produksi Hortikultura Aman dan Ramah Lingkungan

Ekstrak Mimba dan Minyak Selasih Dorong Produksi Hortikultura Aman dan Ramah Lingkungan

  • 28 Juli 2021, 4:02 PM
  • Kilas
  • HORTI INDONESIA
Jakarta, Hortiindonesia.com - Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo menginginkan ketersediaan hortikultura di masa pandemi Covid 19 ini tetap terjamin. Pangan harus cukup dan sehat. Selain itu kualitas produk hortikultura harus mampu berdaya saing. Tak hanya merajai pasar lokal namun juga pasar ekspor. Pembentukan kampung hortikultura merupakan upaya untuk mengkonsentrasikan komoditas agar mudah memonitor pencapaian tersebut.
 
Salah satu musuh nyata budidaya hortikultura, khususnya buah adalah serangan lalat buah. Banyak komoditas buah-buahan yang terhambat ke pasar ekspor dikarenakan keberadaan OPT ini. Solusi yang dilakukan umumnya dengan pemberian pestisida. Sayangnya dalam beberapa kondisi, pestisida yang diberikan lebih banyak menggunakan pestisida kimiawi ketimbang nabati. 
 
“Kondisi pemakaian pestisida kita cukup memprihatinkan. Cobalah kita meminimalisir penggunaan pestisida kimiawi. Gunakan pesitisida nabati misalnya mahoni, mimba atau babandotan yang bagus untuk mengatasi thrips, kutu kebul. Minimal ini bisa dijadikan pencegahan. Kampung-kampung hortikultura ini saya harapkan menggunakan pestisida alami seperti ini,” ujar Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto dalam Bimbingan Teknis Pengelolaan OPT di Kampung Hortikultura Melalui Pemanfaatan Pestisida Nabati, Selasa (27/7).
 
Bimtek yang diikuti 4.009 melalui kanal youtube dan zoom meeting ini berlangsung interaktif. Tak hanya mengupas keunggulan pestisida alami namun juga teknis membuat pestisida alami melalui mimba dan selasih. 
 
Direktur Perlindungan Hortikultura, Inti Pertiwi mengatakan bahwa pengelolaan ramah lingkungan diatur dengan gamblang pada UU No 13 Tahun 2010  tentang Hortikultura. Tak hanya itu, pada UU No 12 tahun 2019 tentang Sistem Budidaya Pertanian Berkelanjutan juga mengatur bahwa perlindungan pertanian dilaksanakan dengan sistem pengelolaan hama terpadu. 
 
“Dikarenakan penggunaaan pestisida kimiawi bisa berdampak pada kesehatan manusia, Kementan tidak lagi menganggarkan pestisida kimiawi. Ini merupakan bukti keberpihakan pemerintah untuk berperan pada lingkungan. Pelaksanaannya menjadi tanggung jawab semua pihak mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, petani, pelaku usaha hingga masyarakat,” papar Inti.
 
Memanfaatkan pestisida alami memiliki sejumlah keuntungan bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Keunggulan ini bersifat jangka panjang dan hampir tidak dimiliki pestisida sintesis atau kimiawi.
 

Baca Juga: Fokus Tekan Biaya Produksi, Kementan "Alihkan" Petani Tanam Bawang Merah Biji

“Secara umum pestisida alami mudah terurai dan aman untuk manusia. Resistensi pada hama tergolong lambat dan senyawanya bersifat sinergis. Artinya jika ditambah dengan ekstrak lain bisa berdaya guna berkali lipat. Penggunaan insektisida alami kompatibel dengan strategi lain dalam PHT. Utamanya, pestisida alami bisa dibuat sendiri,” ujar Staf Departemen Proteksi Tanaman IPB, Dadang. 
 
Dadang menerangkan pestisida alami sudah lama digunakan sejak jaman lalu bahkan konon sejak 3000 SM yakni menggunakan bawang putih, ampas zaitun dan mentimun liar. Sejak 1960 bahkan ekstrak azadirakhtin dari  tanaman mimba dan pestisida alami mulai dilirik lagi sejak 1985. Bahkan beberapa senyawa aktif juga digunakan untuk bahan pestisida sintetik.
 
“Mimba sudah lama digunakan sebagai bahan pestisida alami. Hampir semua bagian tanaman ini bisa digunakan, terutama biji. Hampir ada 100 senyawa aktif yang terdapat pada mimba yakni azadirakhtin yang bisa diambil dari kultur jaringan, beberapa senyawa bisa masuk ke jaringan tambahan. Manfaatnya sangat baik itu berbagai jenis hama mulai dari larva kumbang, penggerek batang, wereng, kepik, thrips, lalat buah, kutu perisai, tungau  dan beberapa OPT lainnya,” papar Bambang. 
 
Dosen Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran, Agus Susanto menerangkan, lalat buah memang sangat merusak produk hortikultura dan memiliki presensi tanaman inang yang inang. Selain itu lalat buah memiliki kapasitas reproduksi yang sangat tinggi sehingga penyebarannya bisa cepat jika tidak teratasi. Beberapa produk buah lokal sulit menembus pasar ekspor karena terkendala lalat buah ini. 
 
“Salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah penggunaan atraktan berbahan dasar selasih. Dengan metode sederhana, kelompok tani bisa memproduksinya sendiri. Ini efektif untuk menarik serangga ke dalam perangkap dan mengurangi populasinya,” ujar Agus.
 
POPT asal Sumedang, Hikmat Sumantri menceritakan pengalamannya membuat destilasi dari selasih. Dirinya bisa mengembangkan  antraktan dari selasih berbunga ungu, bunga putih dan bunga dongkol. Metodenya cukup sederhana namun daya tahannya kuat untuk menarik hama lalat buah. Hikmat menyebutkan, jika menggunakan perangkap antraktan, daya serangnya menurun 15 persen. 
 
“Kami memodifikasi alat destilasi dari dandang. Baru pada 2002 saya membuat alat destilasi sederhana. Meski sederhana, bahan baku 10 kg bisa menghasilkan sebanyak air suling selasih 5 liter dan minyaknya tergantung musim. Musim kemarau dari satu dandang 10 kg selasih yang dilayukan satu malam bisa menghasilkan minyak 10 - 20 ml. air sulingnya pun bisa jadi antraktan daya tangkapnya bisa 15 hari dan minyaknya bisa menarik lalat bulan hingga 3 bulan,” papar Hikmat.

Berita Terkait

WAJIB DICICIPI : DURIAN BAWOR ASLI BANYUMAS

  • 28 Juli 2021, 4:02 PM

Kementan Perluas Areal Tanam Bawang Putih di Lereng Gunung Wilis Tulungagung

  • 28 Juli 2021, 4:02 PM

Awal Kisah Pisang Mas Tanggamus Go Internasional

  • 28 Juli 2021, 4:02 PM

Brebes Panen Bawang Merah Setiap Hari

  • 28 Juli 2021, 4:02 PM

Berita Terpopuler

  • Keren, Aplikasi Ini Bisa Identifikasi Aneka Jenis Tanaman
    22 Januari 2019, 11:45 AM
  • Kenali Ragam Jenis Alpukat: Mentega, Miki, sampai Kendil
    07 Mei 2024, 1:00 PM
  • Kenali Tiga Tahap Fase Pertumbuhan Tanaman Jagung
    18 Maret 2024, 10:53 AM
  • 10 Jenis Durian Terpopuler di Indonesia, Enak dan Legit!
    01 Oktober 2024, 3:58 PM
  • Cara Menanam Pohon Mangga dan Tips Agar Cepat Berbuah
    29 April 2024, 11:31 AM
  • VARIETAS KENTANG YANG COCOK DIOLAH JADI KERIPIK
    06 November 2019, 4:25 PM
  • Menanam Stroberi dengan Sistem Hidroponik
    11 September 2018, 11:23 AM
  • DIRIKAN INDUSTRI OLAHAN HORTIKULTURA UNTUK PRODUK GRADE RENDAH YANG TIDAK LAKU DI PASAR SEGAR
    19 Agustus 2024, 6:53 PM
  • Sunpride Pecahkan Rekor MURI untuk Pajangan Pisang Terbanyak
    02 Juni 2024, 5:11 PM
  • PEMULIAAN UNTUK HASILKAN VUB JERUK
    18 Juni 2024, 1:11 AM

Kategori Berita

  • Buah
  • Sayur
  • Herbal
  • Tanaman Hias
  • Gaya Hidup
  • Tips & Trik
  • InovTek
  • Jelajah
  • Sosok
  • Etalase
© Hortikultura Indonesia 2018 - 2026. All Right Reserved