• Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Profil
    Redaksi Hubungi Kami
  • Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Tentang Kami
  • Sejarah
  • Hubungi Kami
  1. Beranda
  2. Berita
  3. Inovasi Teknologi Terkini dalam Pengendalian OPT Hortikultura

Inovasi Teknologi Terkini dalam Pengendalian OPT Hortikultura

  • 02 Juni 2025, 9:22 AM
  • Sayur, InovTek
  • HORTI INDONESIA

Jakarta, hortiindonesia.com - Dalam menghadapi tantangan pertanian modern, khususnya di sektor hortikultura, Direktorat Perlindungan Hortikultura Kementerian Pertanian Republik Indonesia telah mengambil langkah signifikan melalui inovasi teknologi dalam pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). Hal ini disampaikan secara komprehensif oleh Wita Khaira, SP., M.Si., Ketua Kelompok OPT Sayuran, dalam webinar nasional bertajuk "Pengendalian OPT pada Tanaman Jagung dan Kentang" pada Rabu, 21 Mei 2025.

"Perlindungan hortikultura berperan penting dalam mengamankan produksi dari serangan OPT dan dampak perubahan iklim. Kami selalu mengutamakan pendekatan ramah lingkungan terlebih dahulu sebelum penggunaan pestisida," ujar Wita dalam paparannya. Pendekatan ini selaras dengan upaya memperkuat ketahanan pangan dan mendukung akselerasi ekspor produk hortikultura.

Kebijakan Strategis dan Penerapan PHT

Direktorat Perlindungan Hortikultura memiliki sejumlah kebijakan operasional utama, seperti Gerakan Pengendalian OPT, pelatihan Kelompok Tani berbasis Pengendalian Hama Terpadu (PHT), serta penguatan kelembagaan seperti BPTPH, LPHP, dan Laboratorium Agens Hayati. Kini, terdapat lebih dari 400 klinik PHT aktif di tingkat petani.

"Penerapan PHT hendaknya dikembangkan oleh petani sendiri sesuai dengan keadaan ekosistem setempat," tegas Wita. Prinsip PHT mencakup budidaya tanaman sehat, pemanfaatan musuh alami, pengamatan rutin, dan petani sebagai ahli PHT. Dengan pendekatan ini, pengelolaan OPT menjadi lebih berkelanjutan dan adaptif terhadap dinamika agroekosistem.

Salah satu inovasi utama adalah pengembangan varietas unggul yang tahan terhadap OPT maupun cekaman iklim. Misalnya, pada komoditas bawang merah, terdapat varietas BM 9008 yang sangat tahan terhadap layu Fusarium dan agak tahan terhadap antraknos, serta varietas Rubaru yang toleran terhadap Fusarium sp. dan Spodoptera exigua.

Untuk cabai, varietas seperti BISI HP 49 dan EFP0523 telah terbukti tahan terhadap virus Begomovirus dan Geminivirus. Pada komoditas manggis, varietas Kaligesing tahan terhadap hama penggerek buah dan penyakit busuk akar. Sementara itu, varietas pisang Manurun cocok untuk tanah masam dan Barangan toleran terhadap layu bakteri.

Teknologi Mikroba Intensif Bebas Pestisida

Sebuah terobosan signifikan datang dari penerapan teknologi mikroba intensif pada budidaya cabai dan bawang merah. "Melalui kerjasama dengan Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan IPB, kami berhasil mengurangi penggunaan pestisida hingga 100% pada tanaman cabai di enam lokasi uji coba. Ini menurunkan biaya produksi sebesar 27%," jelas Wita.

Mikroba yang digunakan meliputi Pseudomonas fluorescens, Bacillus polymyxa, Trichoderma hamatum, Lecanicillium lecanii, Rhodotorula minuta, dan Cercospora nicotianae. Aplikasi dilakukan melalui perendaman benih, penyemprotan, dan pelapisan bibit.

Pada bawang merah, penggunaan mikroba seperti Trichoderma harzianum, Fusarium oxysporum non-patogenik, serta Se-NPV terbukti mampu meningkatkan produktivitas 27%, menurunkan penggunaan pupuk kimia 25%, serta menghasilkan produk aman konsumsi.


Baca Juga: Hadirkan Produk Berkualitas, Masyarakat Sambut Antusias Gelar Pangan Murah di Jakarta Selatan

Sebagai alternatif pengendalian ramah lingkungan, Direktorat Perlindungan Hortikultura juga mengembangkan pestisida nabati dan biologis seperti bubur bordo. Selain itu, dipromosikan penggunaan perangkap likat kuning, perangkap feromon, dan perangkap lampu bertenaga surya yang dapat diaplikasikan langsung oleh petani.

Pemanfaatan Teknologi Digital dan Sensor

Dalam era digital, sistem informasi seperti www.ewssipantara.id dan SIEORTUNA mulai digunakan untuk memantau dampak perubahan iklim serta memprediksi serangan OPT. Meski awalnya difokuskan pada tanaman pangan, sistem ini akan dikembangkan lebih lanjut untuk hortikultura.

"Kami juga akan memasang AWS (Automatic Weather Station) hasil kolaborasi dengan IPB untuk memberikan prediksi iklim 10 hari ke depan. Rekomendasi mitigasi akan langsung dikirimkan ke petani melalui aplikasi di ponsel mereka," ungkap Wita.

Teknologi smart farming lainnya termasuk irigasi tetes hemat air, greenhouse pintar, dan sensor tanah yang memberikan rekomendasi pemupukan berdasarkan kondisi aktual lahan.

Kampung Perlindungan Hortikultura

Inovasi berbasis komunitas juga terus digalakkan melalui program Kampung Perlindungan Hortikultura. di Solok, Sumatera Barat, misalnya, terdapat kampung perlindungan bawang merah seluas 59 hektare yang dilengkapi fasilitas seperti demplot, gapura, gerakan pengendalian OPT, hingga klinik PHT.

Beberapa lokasi lainnya adalah Keltan Bumi Mukti di Bantul, Gapoktan Sari Tani Mandiri di Brebes, dan Keltan Curug Petir di Garut. "Program ini bertujuan menciptakan budidaya pertanian hortikultura yang ramah lingkungan berbasis komunitas dan inovasi," terang Wita.

Teknologi MEWB dan Perangkap Semut-Kutu Putih Manggis

Pengelolaan lalat buah skala luas kini menggunakan teknologi ( MEWB) Metil Eugenol Wooden Block yang terdiri dari partikel board direndam dalam metil eugenol dan insektisida dosis kecil. Ini menggantikan metode konvensional yang menggunakan kapas dalam botol bekas.

Untuk komoditas manggis, dikembangkan perangkap semut yang murah dan sederhana. "Kami membuat lem khusus pada plastik dan menempelkannya di batang pohon untuk mencegah semut pembawa kutu putih menjangkau buah manggis," jelas Wita. Teknik ini penting karena keberadaan semut dan kutu putih menjadi penghambat utama ekspor manggis.

Dengan seluruh inovasi tersebut, Direktorat Perlindungan Hortikultura berharap dapat meningkatkan efisiensi usaha tani, menjaga keberlanjutan lingkungan, serta menghasilkan produk hortikultura yang aman, sehat, dan layak ekspor.

Berita Terkait

WAJIB DICICIPI : DURIAN BAWOR ASLI BANYUMAS

  • 02 Juni 2025, 9:22 AM

Kementan Perluas Areal Tanam Bawang Putih di Lereng Gunung Wilis Tulungagung

  • 02 Juni 2025, 9:22 AM

Awal Kisah Pisang Mas Tanggamus Go Internasional

  • 02 Juni 2025, 9:22 AM

Brebes Panen Bawang Merah Setiap Hari

  • 02 Juni 2025, 9:22 AM

Berita Terpopuler

  • Keren, Aplikasi Ini Bisa Identifikasi Aneka Jenis Tanaman
    22 Januari 2019, 11:45 AM
  • Kenali Ragam Jenis Alpukat: Mentega, Miki, sampai Kendil
    07 Mei 2024, 1:00 PM
  • Kenali Tiga Tahap Fase Pertumbuhan Tanaman Jagung
    18 Maret 2024, 10:53 AM
  • 10 Jenis Durian Terpopuler di Indonesia, Enak dan Legit!
    01 Oktober 2024, 3:58 PM
  • Cara Menanam Pohon Mangga dan Tips Agar Cepat Berbuah
    29 April 2024, 11:31 AM
  • VARIETAS KENTANG YANG COCOK DIOLAH JADI KERIPIK
    06 November 2019, 4:25 PM
  • Menanam Stroberi dengan Sistem Hidroponik
    11 September 2018, 11:23 AM
  • DIRIKAN INDUSTRI OLAHAN HORTIKULTURA UNTUK PRODUK GRADE RENDAH YANG TIDAK LAKU DI PASAR SEGAR
    19 Agustus 2024, 6:53 PM
  • Sunpride Pecahkan Rekor MURI untuk Pajangan Pisang Terbanyak
    02 Juni 2024, 5:11 PM
  • PEMULIAAN UNTUK HASILKAN VUB JERUK
    18 Juni 2024, 1:11 AM

Kategori Berita

  • Buah
  • Sayur
  • Herbal
  • Tanaman Hias
  • Gaya Hidup
  • Tips & Trik
  • InovTek
  • Jelajah
  • Sosok
  • Etalase
© Hortikultura Indonesia 2018 - 2026. All Right Reserved