• Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Profil
    Redaksi Hubungi Kami
  • Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Tentang Kami
  • Sejarah
  • Hubungi Kami
  1. Beranda
  2. Berita
  3. Integrasi Tanaman Jagung - Ternak untuk Ketahanan Pakan

Integrasi Tanaman Jagung - Ternak untuk Ketahanan Pakan

  • 21 Agustus 2026, 10:31 AM
  • Sayur
  • HORTI INDONESIA

Jakarta, hortiindonesia.com - Jagung merupakan komoditas strategis nasional yang tidak hanya penting sebagai pangan, pakan, dan energi, tetapi juga menjadi sumber pendapatan bagi jutaan petani. Program tanam jagung yang diinisiatif pemerintah, seperti program penanaman jagung serentak 1 juta hektar, bertujuan untuk meningkatkan produksi jagung nasional guna mencapai ketahanan pangan dan swasembada pangan, mendukung ketersediaan pakan ternak, serta meningkatkan kesejahteraan petani dan ekonomi pedesaan. Program ini meliputi penyiapan lahan, penyediaan benih unggul, pendampingan budidaya, hingga distribusi hasil panen, dengan dukungan berbagai pihak termasuk pemerintah daerah, TNI, Polri, dan masyarakat.  Targetnya adalah meningkatkan hasil produksi jagung untuk memenuhi kebutuhan domestik dan mengurangi ketergantungan impor.  Meningkatkan pendapatan petani jagung melalui peningkatan hasil panen dan akses pasar yang lebih baik.  Memanfaatkan lahan-lahan yang sesuai dan produktif, termasuk potensi alih fungsi lahan yang dinilai lebih bernilai ekonomi untuk mendukung program ini. 

Biji jagung sebagai salah satu komoditas pertanian sebagai sumber pangan yang banyak dikonsumsi dan diolah menjadi berbagai produk serta sebagai pakan utama yang sangat dibutuhkan oleh unggas. Selain biji jagung yang dihasilkan, penanaman jagung juga menghasilkan hasil ikutan berupa tebon dan tongkol serta klobot jagung yang sering kali tidak dimanfaatkan secara optimal. Padahal, limbah jagung memiliki potensi besar sebagai bahan pakan ternak alternatif yang bernutrisi. Bagian tanaman jagung kira-kira 50% merupakan limbah yang ditinggalkan setelah panen. Proporsi berat tanaman jagung dewasa (berdasarkan bahan kering) terdiri dari 30–40% biji, 10–15% tongkol, dan 50–60% tebon (kulit, daun, dan batang). Persentase masing-masing limbah, yaitu 50% tangkai, 20% daun, 20 tongkol dan 10% klobot. Proporsi ini sangat bergantung pada varietas jagung, kesuburan tanah, dan umur panen.

Biji jagung bermanfaat sebagai pakan ternak karena merupakan sumber energi utama dari kandungan karbohidrat dan patinya yang tinggi, membantu pertumbuhan, meningkatkan produksi susu dan daging, meningkatkan nafsu makan ternak, serta mengandung nutrisi seperti lemak, vitamin A, fosfor, dan magnesium yang mendukung kesehatan.  Kandungan karbohidrat dan pati jagung yang tinggi menjadikannya sumber energi utama untuk hewan ternak, membantu mereka mempertahankan berat badan dan produktivitas. Selain energi, biji jagung mengandung protein dan lemak yang membantu pembentukan otot, sehingga meningkatkan produksi daging, susu, dan telur. 

Rasa manis alami biji jagung disukai hewan ternak, sehingga dapat meningkatkan nafsu makan dan memastikan asupan nutrien yang cukup.  Biji jagung mengandung serat kasar yang penting untuk proses pencernaan, terutama bagi hewan ruminansia seperti sapi dan kambing.  Kandungan lemak pada jagung, termasuk asam lemak linoleat yang tinggi, penting untuk ayam petelur. Pati jagung juga mengandung santofil yang bisa meningkatkan warna kuning pada telur.  Jagung dapat meningkatkan rasio konversi pakan, yang berarti ternak dapat tumbuh lebih efisien dengan jumlah pakan yang diberikan.  Dibandingkan beberapa bahan pakan lain, biji jagung relatif mudah disiapkan, disimpan, dan dicampur untuk dijadikan pakan ternak. 

Sementara itu, tebon jagung merupakan limbah pertanian yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan ternak yang ekonomis, terutama saat rumput hijauan sulit ditemukan. Tebon jagung merupakan bagian dari jagung yang terdiri atas batang, daun, dan bagian lainnya dari jagung. Tebon jagung menjadi sumber serat, karbohidrat, dan mineral yang murah dan mudah didapat, terutama sebagai pakan alternatif saat musim kemarau bagi ruminansia. Pengolahan melalui fermentasi atau silase meningkatkan daya cerna dan memperpanjang masa simpan tebon jagung, membuatnya menjadi sumber energi yang dapat membantu meningkatkan kesehatan dan produktivitas ternak.  Ketika hijauan pakan langka di musim kemarau, silase tebon jagung dapat menjadi alternatif yang baik untuk memenuhi kebutuhan nutrien ternak.  Pakan yang diawetkan melalui silase memiliki daya simpan yang cukup lama, sehingga dapat disimpan selama 6-8 bulan atau lebih, menjamin ketersediaan pakan. Pemanfaatan tebon jagung sebagai pakan ternak mengurangi penumpukan limbah pertanian yang sering dibuang atau dibakar. 

Secara fisik, tebon jagung memiliki tekstur kasar, berukuran panjang, dan kadar air yang relatif tinggi (sekitar 60--70%). Secara kimia, kandungan utama tebon jagung terdiri atas serat kasar (25--35%), protein kasar (6--8%), dan total digestible nutrients (TDN) sekitar 50--55%. Kandungan ini belum cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrien ternak jika diberikan langsung dalam bentuk segar. Tanaman jagung menghasilkan limbah dengan proporsi yang bervariasi dengan proporsi terbesar adalah batang jagung (stover) diikuti dengan daun, tongkol dan kulit buah jagung.


Baca Juga: Kementan Kawal Sukabumi Amankan Pasokan Sayuran untuk Jakarta Selama PPKM

Bonggol jagung (tongkol jagung) adalah bagian dalam organ betina tempat bulir jagung menempel yang sering dianggap limbah. Tongkol jagung adalah limbah yang diperoleh ketika biji jagung dirontokkan dari buahnya, sehingga diperoleh jagung pipilan sebagai produk utamanya dan sisa buah yang disebut tongkol. Bahan ini kaya serat dan selulosa. Saat ini, bonggol jagung banyak diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi seperti pakan ternak, pupuk kompos, briket arang, dan kerajinan tangan. Manfaat tongkol jagung untuk sapi adalah sebagai sumber serat kasar yang baik untuk pencernaan, sumber energi ekonomis, dan dapat membantu mengurangi biaya pakan ternak dengan menjadi bahan campuran konsentrat, terutama setelah diolah lebih lanjut seperti digiling atau difermentasi. Namun, karena kandungan protein, vitamin, dan mineralnya rendah, tongkol jagung perlu diimbangi dengan bahan pakan lain yang kaya nutrien.  Sebagai limbah pertanian, tongkol jagung lebih ekonomis dan membantu mengurangi biaya produksi pakan. Tongkol jagung dapat menjadi bahan dasar untuk membuat konsentrat dengan dicampur bersama bahan lain seperti dedak padi, untuk meningkatkan nilai nutrien dan selera makan ternak. 

Klobot jagung adalah limbah pertanian yang potensial sebagai pakan alternatif, terutama untuk ruminansia seperti sapi dan kambing. Klobot berfungsi sebagai sumber serat kasar yang baik untuk pencernaan. Namun, klobot memiliki tingkat protein yang rendah dan serat lignin yang tinggi. Klobot sangat umum dimanfaatkan sebagai pakan alternatif untuk hewan ruminansia. Klobot berfungsi sebagai sumber serat yang baik. Akan tetapi, klobot memiliki tingkat serat kasar yang tinggi dan protein yang rendah (sekitar 4-5%). Oleh karena itu, klobot memerlukan pengolahan khusus agar lebih mudah dicerna oleh hewan. Pengolahan klobot (kulit) jagung untuk pakan ternak dapat dilakukan secara efektif melalui teknik fermentasi (silase). Proses ini meningkatkan daya cerna dan kandungan nutrien limbah yang awalnya memiliki serat kasar tinggi.

Pemeliharaan ruminansia yang diberi limbah tanaman jagung akan menghasilkan kotoran hewan, yaitu limbah organik dari sisa pencernaan ternak seperti sapi, kambing, ayam, atau kerbau yang lazim dimanfaatkan sebagai pupuk kandang atau bahan baku pupuk kompos. Kohe bermanfaat sebagai pupuk organik alami yang kaya akan unsur hara makro dan mikro. Penggunaan kohe yang sudah matang atau difermentasi dapat menyuburkan tanah, memperbaiki struktur fisik tanah agar lebih gembur, serta merangsang pertumbuhan akar, daun, dan buah pada tanaman.

Dengan demikian program penananam jagung selain menghasilkan biji untuk pangan atau pakan ternak, khususnya pakan unggas dan dapat juga menghasilkan hasil ikutan yang sangat potensial sebagai pakan ruminansia  yang dimanfaatkan sebagai pangan dan menghasilkan kotoran ternak sebagai sumber pupuk organik bagi tanaman jagung. Integrasi tanaman jagung dan ternak menjadi sustu sistem usaha pertanian terpadu yang saling mendukung untuk meningkatkan produktivitas, pendapatan, dan keberlanjutan usaha tani (Disarikan dari berbagai sumber).

 

Ditulis oleh:
Iman Hernaman
Dosen Fakultas Peternakan dan Prodi Profesi Insinyur
Universitas Padjadjaran

Berita Terkait

WAJIB DICICIPI : DURIAN BAWOR ASLI BANYUMAS

  • 21 Agustus 2026, 10:31 AM

Kementan Perluas Areal Tanam Bawang Putih di Lereng Gunung Wilis Tulungagung

  • 21 Agustus 2026, 10:31 AM

Awal Kisah Pisang Mas Tanggamus Go Internasional

  • 21 Agustus 2026, 10:31 AM

Brebes Panen Bawang Merah Setiap Hari

  • 21 Agustus 2026, 10:31 AM

Berita Terpopuler

  • Keren, Aplikasi Ini Bisa Identifikasi Aneka Jenis Tanaman
    22 Januari 2019, 11:45 AM
  • Kenali Ragam Jenis Alpukat: Mentega, Miki, sampai Kendil
    07 Mei 2024, 1:00 PM
  • Kenali Tiga Tahap Fase Pertumbuhan Tanaman Jagung
    18 Maret 2024, 10:53 AM
  • 10 Jenis Durian Terpopuler di Indonesia, Enak dan Legit!
    01 Oktober 2024, 3:58 PM
  • Cara Menanam Pohon Mangga dan Tips Agar Cepat Berbuah
    29 April 2024, 11:31 AM
  • VARIETAS KENTANG YANG COCOK DIOLAH JADI KERIPIK
    06 November 2019, 4:25 PM
  • Menanam Stroberi dengan Sistem Hidroponik
    11 September 2018, 11:23 AM
  • DIRIKAN INDUSTRI OLAHAN HORTIKULTURA UNTUK PRODUK GRADE RENDAH YANG TIDAK LAKU DI PASAR SEGAR
    19 Agustus 2024, 6:53 PM
  • Sunpride Pecahkan Rekor MURI untuk Pajangan Pisang Terbanyak
    02 Juni 2024, 5:11 PM
  • PEMULIAAN UNTUK HASILKAN VUB JERUK
    18 Juni 2024, 1:11 AM

Kategori Berita

  • Buah
  • Sayur
  • Herbal
  • Tanaman Hias
  • Gaya Hidup
  • Tips & Trik
  • InovTek
  • Jelajah
  • Sosok
  • Etalase
© Hortikultura Indonesia 2018 - 2026. All Right Reserved