• Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Profil
    Redaksi Hubungi Kami
  • Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Tentang Kami
  • Sejarah
  • Hubungi Kami
  1. Beranda
  2. Berita
  3. Jambu Batu: Raja Nutrisi yang Tersingkir dari Takhtanya

Jambu Batu: Raja Nutrisi yang Tersingkir dari Takhtanya

  • 14 September 2025, 3:53 PM
  • Buah
  • HORTI INDONESIA

Jakarta, hortiindonesia.com – Di tengah tren superfood impor seperti chia seed, quinoa, atau blueberry yang semakin populer, ada satu buah tropis yang justru terlupakan di tanah air sendiri: jambu batu (Psidium guajava). Padahal, buah ini menyimpan mahkota nutrisi yang luar biasa dan bahkan mengalahkan banyak buah impor yang lebih mahal.

Mengutip dari tulisan Agus Pakpahan dalam serial Tropikanisasi Edisi 14 September 2025 berjudul “Jambu Batu Raja Buah Se Dunia: Buah Tropika yang Dilupakan, Ilmu yang Diabaikan, dan Kebijakan yang Tidak Mendukung”, jambu batu dinobatkan sebagai salah satu buah dengan nilai gizi paling tinggi berdasarkan analisis Composite Nutrition Index (CNI). Skornya mencapai 59, jauh melampaui alpukat (47), durian (50), apel (26), bahkan anggur (27).

Tidak hanya itu, kandungan vitamin C dalam jambu batu mencapai 228 mg per 100 gram, jauh lebih tinggi dibandingkan buah-buahan yang selama ini lebih populer di pasaran. Ditambah lagi dengan serat sebesar 5,4 gram per 100 gram dan antioksidan melimpah, jambu batu seharusnya bisa menjadi ikon superfood asli Indonesia. Namun, realitas di pasar berkata lain.

Secara objektif, jambu batu jelas unggul. Namun, pasar tidak berjalan netral. Masih mengutip dari Agus Pakpahan, ada tiga faktor utama yang membuat jambu batu tersingkir dari takhtanya sendiri:

  • Manipulasi supply-demand – Rantai pasok buah impor didukung oleh industri besar yang disubsidi dan didorong promosi masif.
  • Kebijakan bias komoditas ekspor – Pemerintah lebih fokus pada sawit dan beras, sementara pangan lokal seperti jambu kurang mendapat perhatian.

Selera yang dikonstruksi iklan – Media membentuk citra bahwa “apel adalah buah sehat” sementara “jambu dianggap kampungan”.

Fenomena ini menunjukkan adanya bias anti-ilmu, ketika fakta nutrisi tidak dijadikan dasar kebijakan, melainkan dikalahkan oleh narasi pasar dan branding global.

Nasib Serupa: Nasi Coklat, Dedak Padi, dan Jambu Batu

Kondisi jambu batu bukanlah kasus tunggal. Agus Pakpahan dalam tulisannya juga menarik paralel dengan produk lokal lain, yaitu nasi coklat dan dedak padi.

Nasi putih yang gizinya rendah tetap dianggap premium, bahkan distandarkan dalam SNI beras.

Sebaliknya, nasi coklat dan dedak padi yang kaya vitamin B, serat, antioksidan, dan lebih dari 100 jenis bioaktif justru dipinggirkan dan dianggap makanan kelas dua.

Hal ini sama persis dengan nasib jambu batu: raja nutrisi yang dipandang sebelah mata hanya karena persepsi sosial dan konstruksi pasar.

Dari sini jelas bahwa masalah jambu batu bukan sekadar soal selera konsumen, tetapi juga kebijakan pangan yang tidak berpihak pada kekayaan lokal. Masih mengutip dari Agus Pakpahan, ada tiga hal yang perlu diperjuangkan:

  • Kebijakan pangan berbasis nutrisi – Pemerintah seharusnya menempatkan gizi sebagai prioritas, bukan sekadar profit ekonomi.
  • Promosi buah lokal secara sistematis – Melalui sekolah, riset, hingga dukungan subsidi agar jambu batu dan buah lokal lain bisa bersaing di pasar.
  • Edukasi konsumen – Membangun kesadaran bahwa jambu batu lebih kaya nutrisi dibanding apel impor.

  • Baca Juga: Siapkan Ekspor Buah Ke Argentina, Kementan Jaring Komunikasi Dengan Eksporti dan Petani

Langkah-langkah ini penting agar buah lokal mendapat tempat yang layak dalam sistem pangan nasional dan internasional.

Mengonsumsi jambu batu bukan sekadar soal selera, tetapi juga aksi nyata. Agus Pakpahan menekankan bahwa makan jambu batu adalah tindakan etis, politis, dan ekonomi.

  • Etis, karena kita mendukung pangan sehat dan bernutrisi.
  • Politis, karena menolak dominasi narasi pasar global yang meminggirkan buah tropis.
  • Ekonomi, karena dengan membeli dari petani lokal, kita memperkuat rantai pasok domestik.

Dengan kata lain, revolusi bisa dimulai dari piring kita masing-masing. Semakin banyak masyarakat memilih jambu batu, semakin kuat posisi petani lokal, dan semakin tinggi peluang buah ini kembali ke takhtanya sebagai raja nutrisi tropis.

Jambu batu adalah simbol perlawanan terhadap hegemoni pasar global yang lebih mengutamakan citra dibandingkan data ilmiah. Seperti ditegaskan dalam tulisan Agus Pakpahan, “Makan jambu batu bukan hanya pilihan selera, itu adalah aksi etis, politis, dan ekonomi untuk bisa dan kuat keluar dari kungkungan kekalahan tropika.”

Melalui gerakan ini, kita bisa mengembalikan ilmu pengetahuan pada posisinya yang semestinya: sebagai dasar kebijakan pangan, bukan sekadar ikut arus pasar.

Aksi Nyata yang Bisa Dilakukan

Dengan beberapa hal di atas, ada tiga aksi nyata yang bisa kita lakukan, di antaranya:

  • Membeli jambu batu langsung dari petani lokal.
  • Membagikan informasi objektif mengenai keunggulan jambu batu di media sosial.
  • Mendorong pemerintah agar menyusun kebijakan pangan yang lebih berpihak pada ilmu pengetahuan dan buah lokal.

Jambu batu bukan buah biasa, ia adalah superfood tropis yang selama ini disingkirkan oleh bias pasar dan kebijakan. Saatnya masyarakat Indonesia mengangkat kembali buah ini sebagai kebanggaan lokal dengan segudang manfaat.

Mengutip dari Agus Pakpahan dalam Serial Tropikanisasi "Merayakan Kearifan Lokal, Menolak Hegemoni Global": “Itu artinya menolak dikte pasar, mendukung petani lokal, dan mengembalikan ilmu pengetahuan pada takhtanya.”

Dengan dukungan bersama, jambu batu bisa kembali berjaya, bukan hanya di meja makan masyarakat Indonesia, tetapi juga di pasar dunia.

Berita Terkait

WAJIB DICICIPI : DURIAN BAWOR ASLI BANYUMAS

  • 14 September 2025, 3:53 PM

Kementan Perluas Areal Tanam Bawang Putih di Lereng Gunung Wilis Tulungagung

  • 14 September 2025, 3:53 PM

Awal Kisah Pisang Mas Tanggamus Go Internasional

  • 14 September 2025, 3:53 PM

Brebes Panen Bawang Merah Setiap Hari

  • 14 September 2025, 3:53 PM

Berita Terpopuler

  • Keren, Aplikasi Ini Bisa Identifikasi Aneka Jenis Tanaman
    22 Januari 2019, 11:45 AM
  • Kenali Ragam Jenis Alpukat: Mentega, Miki, sampai Kendil
    07 Mei 2024, 1:00 PM
  • Kenali Tiga Tahap Fase Pertumbuhan Tanaman Jagung
    18 Maret 2024, 10:53 AM
  • Cara Menanam Pohon Mangga dan Tips Agar Cepat Berbuah
    29 April 2024, 11:31 AM
  • 10 Jenis Durian Terpopuler di Indonesia, Enak dan Legit!
    01 Oktober 2024, 3:58 PM
  • VARIETAS KENTANG YANG COCOK DIOLAH JADI KERIPIK
    06 November 2019, 4:25 PM
  • Menanam Stroberi dengan Sistem Hidroponik
    11 September 2018, 11:23 AM
  • DIRIKAN INDUSTRI OLAHAN HORTIKULTURA UNTUK PRODUK GRADE RENDAH YANG TIDAK LAKU DI PASAR SEGAR
    19 Agustus 2024, 6:53 PM
  • Sunpride Pecahkan Rekor MURI untuk Pajangan Pisang Terbanyak
    02 Juni 2024, 5:11 PM
  • PEMULIAAN UNTUK HASILKAN VUB JERUK
    18 Juni 2024, 1:11 AM

Kategori Berita

  • Buah
  • Sayur
  • Herbal
  • Tanaman Hias
  • Gaya Hidup
  • Tips & Trik
  • InovTek
  • Jelajah
  • Sosok
  • Etalase
© Hortikultura Indonesia 2018 - 2026. All Right Reserved