• Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Profil
    Redaksi Hubungi Kami
  • Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Tentang Kami
  • Sejarah
  • Hubungi Kami
  1. Beranda
  2. Berita
  3. KEBERHASILAN TANAM DURIAN DI INDONESIA BARU 30,3%

KEBERHASILAN TANAM DURIAN DI INDONESIA BARU 30,3%

  • 04 Februari 2022, 9:10 AM
  • Buah, Kilas
  • Admin

Solok, Hortiindonesia.com

Salah satu masalah yang harus diatasi dalam budidaya durian di Indonesia adalah tingkat keberhasilannya yang masih rendah yaitu 30,3%.  Panca Jarot Santosa, peneliti Balai Buah Tropika, Puslitbang Hortikultura, Balitbang Kementan menyatakan hal ini.

Penjualan benih durian bersertifikat setiap tahun rata-rata mencapai 1.416.647 batang atau setara penanaman 14.616,4 ha pertahun. Tetapi  tambahan luas areal panen durian dalam 11 tahun terakhir    48.689 ha, berarti tiap tahun hanya bertambah 4.426,3 Ha.

Jika dibandingkan dengan penjualan benih maka tingkat keberhasilan penanaman sampai bisa panen hanya 30,3%. Luas panen durian tahun 2018 tercatat 56.655 Ha sedang tahun 2019 105.344 Ha.

Produksi durian Indonesia  tahun 2005 mencapai 566.000 ton sedang tahun 2020 1.133.000 ton. Terjadi peningkatan 100,7% selama 15 tahun atau 6,67% pertahun atau 37.800 ton/tahun. Provinsi penghasil durian yang cukup besar adalah Aceh, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Era budidaya durian bisa dibagi dalam beberapa periode waktu. Sebelum tahun 1600 durian sangat dekat dengan kehidupan dan tradisi masyarakat. Ada ratusan nama durian tergantung tempat dan desanya. Durian banyak digunakan sebagai masakan tradisional, saat ini yang masih bertahan contohnya tempoyak.


Baca Juga: Kementan Pilih Tegal Jadi Lokasi Pelatihan Petugas Verifikasi Bawang Putih

Setelah tahun 1600 karena ada tanam paksa tanaman perkebunan oleh VOC menjadikan kurang diperhatikan. Durian banyak digunakan sebagai tanaman penaung, ditanam di belakang rumah dan dalam tumpang sari.

Tahun 1980an bisa dikatakan eranya Monthong. Waktu itu durian monthong sedang populer sehingga durian yang disukai adalah yang besar. Penanaman bergeser dari pekaranganjadi  diusahakan dalam kebun oleh petani kecil. Tetapi pada saat itu juga kelapa sawit berkembang pesat sehingga perkembangannya  terhambat.

Tahun 2010an sampai sekarang merupakan eranya Musangking. Durian besar tidak lagi jadi favorit tetapi harus yang rasanya enak. Terjadi pergerseran dari kebun petani kecil menjadi kebun dengan skala menengah dan besar oleh investor. Teknik budidaya juga semakin maju dan berkembang.

Indonesia sangat potensial untuk pengembangan durian karena merupakan tanaman asli dan salah satu pusat keanekaragaman jenis durian dunia. Ada 21 species durian  yang berarti sangat melimpah klon dan varietas lokal.

Tahun 2019 produksi durian mencapai 1.169.802 ton. Menempati posisi nomor 5 setelah pisang, manggis, jeruk dan nanas.  Luas panen tahun 2019 105.345 Ha, produktivitas 11,1 ton/Ha, ekspor 1.088 ton, impor 1,28 ton sedang konsumsi 2,4 kg/kapita. Provinsi penghasil durian yang cukup besar tahun 2019 adalah Sumatera Utara 90.000 ton, Sumatera Barat 63.000 ton, Jawa Barat  94.000 ton, Jawa Tengah  173.000 ton, Jawa Timur 289.000 ton, Sulawesi Selatan 45.000 ton.

Saat ini sudah ada 104 varietas/klon unggul durian yang sudah dilepas oleh Kementan, 99 merupakan varietas asli/lokal dan 5 merupakan introduksi dari luar. Sampai saat ini belum ada durian hasil pemulian di Indonesia, varietas/klon unggul yang ada sekarang merupakan hasil seleksi.Dari species maka 96 merupakan Durio zibethinus, 5 Durio kutejensis, 3 Durio connatus.

Klon populer yang merupakan introduksi adalah Monthong atau Otong dari Thailand, Chane yang disini jadi Bawor atau Kromo Banyumas asal Thailand dan Musangking / MK Hortimart asal Malaysia. Sedang varietas durian lokal yang populer adalah Matahari dari Bogor, Namlung Petaling dari Bangka dan TS Klamunod dari Bangka , ketiganya ditetapkan sebagai varietas nasional. Varietas lainnya adalah Simenang asal Banjarnegara, varietas unggul Jawa Tengah; Lai Mahakam dari Kutai Kartanegara, varietas lokal Kaltim dan Ripto dari Trenggalek varietas lokal Jawa Timur.

Berita Terkait

WAJIB DICICIPI : DURIAN BAWOR ASLI BANYUMAS

  • 04 Februari 2022, 9:10 AM

Kementan Perluas Areal Tanam Bawang Putih di Lereng Gunung Wilis Tulungagung

  • 04 Februari 2022, 9:10 AM

Awal Kisah Pisang Mas Tanggamus Go Internasional

  • 04 Februari 2022, 9:10 AM

Brebes Panen Bawang Merah Setiap Hari

  • 04 Februari 2022, 9:10 AM

Berita Terpopuler

  • Keren, Aplikasi Ini Bisa Identifikasi Aneka Jenis Tanaman
    22 Januari 2019, 11:45 AM
  • Kenali Ragam Jenis Alpukat: Mentega, Miki, sampai Kendil
    07 Mei 2024, 1:00 PM
  • Kenali Tiga Tahap Fase Pertumbuhan Tanaman Jagung
    18 Maret 2024, 10:53 AM
  • Cara Menanam Pohon Mangga dan Tips Agar Cepat Berbuah
    29 April 2024, 11:31 AM
  • 10 Jenis Durian Terpopuler di Indonesia, Enak dan Legit!
    01 Oktober 2024, 3:58 PM
  • VARIETAS KENTANG YANG COCOK DIOLAH JADI KERIPIK
    06 November 2019, 4:25 PM
  • Menanam Stroberi dengan Sistem Hidroponik
    11 September 2018, 11:23 AM
  • Sunpride Pecahkan Rekor MURI untuk Pajangan Pisang Terbanyak
    02 Juni 2024, 5:11 PM
  • DIRIKAN INDUSTRI OLAHAN HORTIKULTURA UNTUK PRODUK GRADE RENDAH YANG TIDAK LAKU DI PASAR SEGAR
    19 Agustus 2024, 6:53 PM
  • PEMULIAAN UNTUK HASILKAN VUB JERUK
    18 Juni 2024, 1:11 AM

Kategori Berita

  • Buah
  • Sayur
  • Herbal
  • Tanaman Hias
  • Gaya Hidup
  • Tips & Trik
  • InovTek
  • Jelajah
  • Sosok
  • Etalase
© Hortikultura Indonesia 2018 - 2026. All Right Reserved