• Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Profil
    Redaksi Hubungi Kami
  • Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Tentang Kami
  • Sejarah
  • Hubungi Kami
  1. Beranda
  2. Berita
  3. Kementan Sigap Tangani Dampak Perubahan Iklim di Kalimantan Barat

Kementan Sigap Tangani Dampak Perubahan Iklim di Kalimantan Barat

  • 28 September 2020, 8:59 PM
  • Kilas
  • HORTI INDONESIA

Menghadapi musim hujan di awal Oktober 2020, masyarakat tetap mewaspadai wilayah-wilayah yang akan mengalami musim hujan lebih awal, yaitu di sebagian wilayah Sumatera dan Sulawesi serta sebagian kecil Jawa, Kalimantan, NTB dan NTT.

Secara teori menanam komoditi hortikultura pada musim hujan akan menghadapi kendala karena memicu berkembangnya organisme pengganggu tanaman, terutama penyakit. Dampaknya, resiko kegagalan panen menjadi lebih besar. Beberapa OPT yang perlu diwaspadai antara lain antraknosa, layu fusarium dan bercak ungu.

Direktur Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian, Prihasto Setyanto menyampaikan bahwa salah satu kunci keberhasilan peningkatan produksi yaitu melakukan pengendalian OPT.

"Saya meminta Petugas Pengendali OPT yang berada di bawah Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura agar tetap semangat melakukan tugasnya dalam monitoring OPT, baik di musim hujan maupun pada musim kemarau," ujar Prihasto.

Prihasto menambahkan, Kementerian Pertanian (Kementan) di bawah komando Syahrul Yasin Limpo (SYL) tetap mendorong dan memacu jajaran di Kementan untuk lebih giat dalam penerapan teknologi pertanian. Ini dilakukan sebagai upaya pengelolaan OPT.

"Tujuannya tak lain untuk memastikan ketersediaan produksi hortikultura untuk tetap aman dan terjaga," lanjutnya.

Di tempat terpisah, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat, Florentinus Anum, mengatakan bahwa perubahan iklim berimplikasi terhadap munculnya ras, strain dan biotipe baru dari OPT.

“Dampak dari perubahan iklim adalah berubahnya pola hujan, bergesernya awal musim, banjir, kekeringan, dan naiknya permukaan air laut yang mana hal tersebut otomatis memicu perubahan pola hidup OPT sehingga dapat menyebabkan ledakan hama penyakit,” ungkap Florentinus.

Beberapa hal yang menurutnya akan terus dilakukan di antaranya adalah mengoptimalkan pemanfaatan sarana prasarana seperti pompanisasi yang ada di petani. Selain itu mengintensifkan pemantauan dinamika serangan OPT serta penerapan sistem budidaya tanaman yang sehat. Program ini diintegrasikan dalam teknologi pengelolaan hama dan penyakit tanaman secara terpadu. Dengan demikin, POPT adalah garda terdepan dalam mengawal dan melindungi pertanian dari serangan OPT dan DPI.


Baca Juga: Ekspor Naik, Produk Hortikultura Indonesia di Jalur Hijau

Budidaya tanaman hortikultura di musim kemarau maupun di musim penghujan sebenarnya sama-sama memiliki risiko gagal panen. Perbedaannya terletak pada penyebabnya saja. Jika di musim kemarau biasanya disebabkan kurangnya pasokan air, sementara kalau di musim penghujan disebabkan adanya kelebihan air.

“Curah hujan tinggi juga akan menyebabkan kelembapan yang tinggi. Risiko gagal panen di musim hujan terutama disebabkan oleh penyakit tanaman yang berasal dari jamur dan bakteri,” ujar Kepala UPT Perlindungan TPH Kalbar, Yuliana Yulinda.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, kata Yuliana, jajarannya telah melakukan beberapa hal sebagai tindakan antisipasi, antara lain monitoring dan evaluasi kondisi iklim, baik itu melalui kerja sama dengan BMKG, SMPK maupun dari hasil pengamatan AWS yang kemudian dipadukan dengan analisis peramalan OPT. Selanjutnya berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memetakan daerah sentra hortikultura yang rawan terkena dampak perubahan iklim dan tindakan pengendalian yang dapat dilakukan bersama. Selain itu melakukan pemantauan perkembangan OPT secara intensif untuk mengetahui perkembangan OPT sebagai dasar tindakan pengendalian yang dilakukan.

“Termasuk membimbing petani untuk melakukan penyesuaian kultur teknis budidaya sebagai upaya adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim, seperti peninggian bedengan tanaman, penggunaan varietas toleran, pengaturan jarak tanam, sanitasi lingkungan, perbaikan drainase, pemupukan dengan dosis yang tepat serta pemanfaatan agensia hayati dalam pengendalian OPT,” paparnya.

Dalam penanganan dampak perubahan iklim di sektor pertanian, UPT Perlindungan TPH Kalbar menggandeng Stasiun Klimatologi Kalimantan Barat serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Barat untuk memetakan sebaran daerah rawan kebanjiran hingga tingkat desa.

“Dengan mengetahui lebih awal daerah mana-mana saja yang rentan kebanjiran serta prakiraan perubahan cuaca dan musim yang akan terjadi, kami dapat menindaklanjutinya dengan memberikan edukasi dan sosialisasi tentang prakiraan musim hujan kepada petani terkait budidaya tanamannya,” imbuhnya.

Menurut Yuliana, penting untuk mengantisipasi potensi kerawanan akibat perubahan iklim. “Baik itu oleh petani, kami selaku petugas maupun instansi terkait lainnya. Karena sebagaimana yang kita ketahui bersama kondisi saat ini kurang begitu baik disebabkan adanya pandemi ditambah lagi dengan cuaca ekstrim. Oleh karena itu, kami akan berupaya semaksimal mungkin membantu petani agar mereka bisa tetap panen,” ujar Yuliana.

Menyikapi merebaknya OPT di musim hujan, Direktur Perlindungan Hortikultura Sri Wijayanti Yusuf, mengajak dan menghimbau petani untuk terus menggunakan bahan pengendali OPT ramah lingkungan.

“Harapannya produksi yang dihasilkan aman konsumsi. Jika pun menggunakan pestisida kimia perlu memperhatikan prinsip 6 (enam) tepat yaitu tepat sasaran, mutu, jenis pestisida, waktu, dosis dan konsentrasi serta cara penggunaan,” tutup dia.

Berita Terkait

WAJIB DICICIPI : DURIAN BAWOR ASLI BANYUMAS

  • 28 September 2020, 8:59 PM

Kementan Perluas Areal Tanam Bawang Putih di Lereng Gunung Wilis Tulungagung

  • 28 September 2020, 8:59 PM

Awal Kisah Pisang Mas Tanggamus Go Internasional

  • 28 September 2020, 8:59 PM

Brebes Panen Bawang Merah Setiap Hari

  • 28 September 2020, 8:59 PM

Berita Terpopuler

  • Keren, Aplikasi Ini Bisa Identifikasi Aneka Jenis Tanaman
    22 Januari 2019, 11:45 AM
  • Kenali Ragam Jenis Alpukat: Mentega, Miki, sampai Kendil
    07 Mei 2024, 1:00 PM
  • Kenali Tiga Tahap Fase Pertumbuhan Tanaman Jagung
    18 Maret 2024, 10:53 AM
  • 10 Jenis Durian Terpopuler di Indonesia, Enak dan Legit!
    01 Oktober 2024, 3:58 PM
  • Cara Menanam Pohon Mangga dan Tips Agar Cepat Berbuah
    29 April 2024, 11:31 AM
  • VARIETAS KENTANG YANG COCOK DIOLAH JADI KERIPIK
    06 November 2019, 4:25 PM
  • Menanam Stroberi dengan Sistem Hidroponik
    11 September 2018, 11:23 AM
  • DIRIKAN INDUSTRI OLAHAN HORTIKULTURA UNTUK PRODUK GRADE RENDAH YANG TIDAK LAKU DI PASAR SEGAR
    19 Agustus 2024, 6:53 PM
  • Sunpride Pecahkan Rekor MURI untuk Pajangan Pisang Terbanyak
    02 Juni 2024, 5:11 PM
  • PEMULIAAN UNTUK HASILKAN VUB JERUK
    18 Juni 2024, 1:11 AM

Kategori Berita

  • Buah
  • Sayur
  • Herbal
  • Tanaman Hias
  • Gaya Hidup
  • Tips & Trik
  • InovTek
  • Jelajah
  • Sosok
  • Etalase
© Hortikultura Indonesia 2018 - 2026. All Right Reserved