• Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Profil
    Redaksi Hubungi Kami
  • Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Tentang Kami
  • Sejarah
  • Hubungi Kami
  1. Beranda
  2. Berita
  3. Kupas Tuntas Strategi Sukses Bertani dan Prospek Menggiurkan Bisnis Jahe 2025: Standardisasi dan Penerapan GAP Jadi Kunci Daya Saing Global

Kupas Tuntas Strategi Sukses Bertani dan Prospek Menggiurkan Bisnis Jahe 2025: Standardisasi dan Penerapan GAP Jadi Kunci Daya Saing Global

  • 08 April 2025, 9:08 AM
  • Herbal
  • HORTI INDONESIA

Jakarta, hortiindonesia.com - Webinar Horti Indonesia bertajuk "Kiat Sukses Bertani Jahe dan Prospek Bisnis Jahe 2025" pada Senin, 24 Maret 2025 sukses terlaksana. Disponsori oleh Nufarm, acara daring yang dihadiri oleh ratusan peserta dari berbagai kalangan ini menghadirkan para pakar dan pelaku industri jahe terkemuka untuk berbagi pengetahuan mendalam mengenai peluang, tantangan, serta strategi meraih kesuksesan dalam budidaya dan bisnis jahe di tahun yang akan datang.

Webinar yang dimoderatori secara profesional oleh Dr.Ir. Gusmaini, MSi. – Peneliti Ahli Utama Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), ini menghadirkan tiga narasumber kompeten yang memberikan perspektif holistik mengenai industri jahe. Diantaranya adalah Direktur PT Rumah Tani Nusantara, Bahtiar, Peneliti Ahli Utama BRIN, Dr. Ir. Yuli Widiyastuti, M.P., dan Kepala Balai Pengujian Standar Instrumen Tanaman Rempah, Obat, dan Aromatik (BSIP TROA), Prima Luna, S.TP., M.Si., Ph.D.

Bahtiar membuka sesi dengan materi "Prospek dan Peluang Bisnis Jahe 2025" dan mengawali presentasinya dengan mengakui potensi ekonomi jahe yang sangat besar, baik di pasar domestik maupun internasional.

Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS), ia menyampaikan bahwa meskipun terjadi penurunan produksi jahe pada tahun 2023 menjadi 247.000 ton dari 307.000 ton pada tahun sebelumnya, "Meski demikian, market capital jahe tetap tumbuh, mencapai Rp24,41 miliar." Hal ini menunjukkan bahwa permintaan dan nilai pasar jahe tetap signifikan.

Namun, Bahtiar juga tidak menutup mata terhadap berbagai tantangan yang dihadapi oleh petani dan pelaku bisnis jahe, terutama terkait fluktuasi cuaca ekstrem yang mempengaruhi hasil panen. "Penurunan produksi ini disebabkan oleh berbagai faktor, terutama tantangan cuaca yang ekstrem pada 2022," ujarnya.

Untuk mengatasi tantangan ini dan memastikan keberlanjutan bisnis jahe, Bahtiar menekankan beberapa solusi strategis. "Pemerintah harus memberikan dukungan lebih bagi petani jahe, terutama dalam infrastruktur dan akses permodalan," tegasnya.

Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya perbaikan tata kelola supply chain untuk menstabilkan harga di tingkat petani dan mencegah kerugian akibat impor yang tidak terkontrol saat panen raya. "Ketika petani panen raya, jangan sampai impor jahe dibuka begitu saja. Ini yang bikin harga anjlok dan petani rugi."

Lebih lanjut, Bahtiar mendorong pengembangan hilirisasi produk turunan jahe sebagai langkah krusial untuk meningkatkan nilai tambah dan menciptakan bisnis jahe yang lebih stabil dan menguntungkan. "Jika jahe tidak hanya dijual sebagai bahan baku, tetapi juga diolah menjadi produk bernilai tambah seperti ekstrak jahe, minuman jahe instan, atau suplemen herbal, maka bisnis jahe bisa lebih stabil dan menguntungkan."

Sesi kedua menghadirkan Dr. Yuli yang memaparkan materi penting mengenai "Prospek Kiat Sukses Budidaya Jahe Sesuai Good Agricultural Practices (GAP)". Dr. Yuli membuka sesinya dengan menggarisbawahi potensi pasar global jahe yang sangat menjanjikan.


Baca Juga: Tidak Ada Fakta, Kementan Bantah Tudingan Ketua AHN

"Secara global jahe merupakan tumbuhan yang sangat dibutuhkan dan total perdagangannya di pasar dunia pada tahun 2025 mencapai $5.2 billion. Prospek pasar jahe sangat besar yang didorong oleh beberapa permintaan dan sangat variatif tidak hanya minuman kesehatan tapi juga obat, minyak atsiri dan industri parfum," terangnya.

Dr. Yuli pun menjelaskan tiga varietas jahe yang umum dibudidayakan di Indonesia, yaitu jahe putih besar, jahe putih kecil, dan jahe merah. Untuk meraih kesuksesan dalam budidaya jahe dan memenuhi permintaan pasar yang tinggi, Dr. Yuli menekankan krusialnya penerapan GAP.

"Karena kalau rimpang sampai keluar dari tanah dan terkena sinar matahari maka akan mengakibatkan perubahan warna rimpang dari kuning menjadi hijau dan menurunkan kualitas," jelasnya mengenai salah satu aspek penting dalam GAP. Beliau juga menyinggung pentingnya pengolahan pasca panen yang sesuai standar untuk menjaga mutu jahe, terutama untuk industri jamu dan farmasi.

Sesi terakhir diisi oleh Prima Luna yang membawakan materi tentang "Standardisasi dan Daya Saing Jahe Indonesia Masa Kini". Prima Luna dengan tegas menyampaikan urgensi standardisasi sebagai kunci utama untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing jahe Indonesia di pasar domestik maupun internasional.

Mengutip data produksi, beliau menyatakan, "Jahe (Zingiber officinale) memiliki banyak manfaat untuk kesehatan. Produksi jahe Indonesia tahun 2022 mencapai 247 ribu ton." Namun, beliau menekankan bahwa volume produksi saja tidak cukup untuk bersaing di pasar global.

"Untuk meningkatkan harga jual jahe sebaiknya diolah menjadi suatu produk yang sesuai standar. Sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani." Prima Luna juga mengilustrasikan potensi peningkatan nilai tambah yang signifikan melalui pengolahan jahe.

"Kalau dilihat dari grafik berikut, sebenarnya ada potensi nilai tambah ketika bisa mengolah jahe tersebut sekitar 1000 USD per Ton atau sekitar 16 juta. Dibandingkan dengan mengekspor segar, sebenarnya ada nilai tambah sekitar 3,6 juta."

Beliau juga menjelaskan peran penting standar sebagai "mata uang" dalam perdagangan internasional. "Karena saat ini standar menjadi seperti mata uang, kita kita masuk dalam perdagangan internasional." Lebih lanjut, Prima Luna memaparkan upaya BPSI TROA dalam menyusun standar untuk jahe kering dan pentingnya kolaborasi dengan berbagai pihak terkait dalam proses standardisasi.

Webinar "Kiat Sukses Bertani Jahe dan Prospek Bisnis Jahe 2025" ini merupakan suatu upaya untuk memberikan wawasan yang berharga dan komprehensif bagi seluruh penggiat hortikultura di Indonesia, khususnya jahe. Kesimpulan utama dari webinar ini adalah bahwa prospek bisnis jahe di tahun 2025 tetap menjanjikan, namun memerlukan strategi yang tepat, penerapan GAP dalam budidaya, dan standardisasi produk untuk meningkatkan daya saing di pasar global.

Berita Terkait

WAJIB DICICIPI : DURIAN BAWOR ASLI BANYUMAS

  • 08 April 2025, 9:08 AM

Kementan Perluas Areal Tanam Bawang Putih di Lereng Gunung Wilis Tulungagung

  • 08 April 2025, 9:08 AM

Awal Kisah Pisang Mas Tanggamus Go Internasional

  • 08 April 2025, 9:08 AM

Brebes Panen Bawang Merah Setiap Hari

  • 08 April 2025, 9:08 AM

Berita Terpopuler

  • Keren, Aplikasi Ini Bisa Identifikasi Aneka Jenis Tanaman
    22 Januari 2019, 11:45 AM
  • Kenali Ragam Jenis Alpukat: Mentega, Miki, sampai Kendil
    07 Mei 2024, 1:00 PM
  • Kenali Tiga Tahap Fase Pertumbuhan Tanaman Jagung
    18 Maret 2024, 10:53 AM
  • 10 Jenis Durian Terpopuler di Indonesia, Enak dan Legit!
    01 Oktober 2024, 3:58 PM
  • Cara Menanam Pohon Mangga dan Tips Agar Cepat Berbuah
    29 April 2024, 11:31 AM
  • VARIETAS KENTANG YANG COCOK DIOLAH JADI KERIPIK
    06 November 2019, 4:25 PM
  • Menanam Stroberi dengan Sistem Hidroponik
    11 September 2018, 11:23 AM
  • DIRIKAN INDUSTRI OLAHAN HORTIKULTURA UNTUK PRODUK GRADE RENDAH YANG TIDAK LAKU DI PASAR SEGAR
    19 Agustus 2024, 6:53 PM
  • Sunpride Pecahkan Rekor MURI untuk Pajangan Pisang Terbanyak
    02 Juni 2024, 5:11 PM
  • PEMULIAAN UNTUK HASILKAN VUB JERUK
    18 Juni 2024, 1:11 AM

Kategori Berita

  • Buah
  • Sayur
  • Herbal
  • Tanaman Hias
  • Gaya Hidup
  • Tips & Trik
  • InovTek
  • Jelajah
  • Sosok
  • Etalase
© Hortikultura Indonesia 2018 - 2026. All Right Reserved