• Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Profil
    Redaksi Hubungi Kami
  • Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Tentang Kami
  • Sejarah
  • Hubungi Kami
  1. Beranda
  2. Berita
  3. NILAI TUKAR PETANI TANAMAN HORTIKULTURA DESEMBER 2024 NAIK

NILAI TUKAR PETANI TANAMAN HORTIKULTURA DESEMBER 2024 NAIK

  • 05 Januari 2025, 6:50 PM
  • Kilas
  • Admin

Jakarta, hortiindonesia.com - Berdasarkan hasil pemantauan harga-harga perdesaan di 38 provinsi di Indonesia pada Desember 2024, NTP  (Nilai Tukar Petani) secara nasional naik 1,23 persen dibandingkan NTP November 2024, yaitu dari 121,29 menjadi 122,78. Kenaikan NTP pada Desember 2024 disebabkan oleh kenaikan indeks harga hasil produksi pertanian lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga maupun biaya produksi dan penambahan barang modal. Pudji Ismartini, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, Badan Pusat Statistik menyatakan hal ini.

Nilai Tukar Petani (NTP) adalah perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib). NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di perdesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (terms of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi.

Kenaikan NTP Desember 2024 dipengaruhi oleh naiknya NTP di seluruh subsektor pertanian, yaitu Subsektor Tanaman Pangan sebesar 0,02 persen; Subsektor Tanaman Hortikultura sebesar 5,26 persen; Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat sebesar 2,05 persen; Subsektor Peternakan sebesar 0,28 persen; dan Subsektor Perikanan sebesar 0,62 persen.

Pada Desember 2024 terjadi kenaikan NTPH (Nilai Tukar Petani Tanaman Hortikultura) sebesar 5,26 persen. Hal ini terjadi karena kenaikan It sebesar 5,86 persen, lebih tinggi dibandingkan kenaikan Ib sebesar 0,57 persen.

Kenaikan It pada Desember 2024 disebabkan oleh naiknya It pada dua kelompok penyusun NTPH yaitu kelompok sayur-sayuran (khususnya komoditas bawang merah dan cabai rawit) sebesar 8,05 persen dan kelompok tanaman obat (khususnya komoditas jahe dan kencur) sebesar 1,81 persen. Sementara itu, It pada kelompok buah-buahan (khususnya komoditas salak dan nangka dan petai) mengalami penurunan sebesar 1,45 persen.

Bawang merah mengalami perubahan harga 1,74% disumbangkan provinsi NTB 19,64%, Papua Selatan (16,49%). DI Yogyakarta (11.49%).  Cabai rawit 1,8 % disumbangkan oleh Sumbar (35,57%), Sumut (27,38%), Jateng 19,46%. Cabai merah perubahan harga 1,11% disumbangkan oleh Jateng 42.88%, Jatim 34.77% . Kalsel 25,63%.


Baca Juga: Jelang Akhir Tahun, Pasar Pare Catat Kenaikan Tajam Harga Cabai

 Kenaikan Ib sebesar 0,57 persen yaitu disebabkan oleh kenaikan Indeks Kelompok Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) sebesar 0,74 persen dan Indeks Kelompok Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) sebesar 0,19 persen.

Dari 38 provinsi, sebanyak 29 provinsi mengalami kenaikan NTP dan sembilan provinsi mengalami penurunan NTP. Kenaikan NTP tertinggi pada Desember 2024 terjadi di Provinsi Sulawesi Tengah, yaitu sebesar 4,47 persen, sedangkan penurunan NTP terbesar terjadi di Provinsi Papua Barat yaitu sebesar 1,13 persen.

Kenaikan tertinggi NTP di Provinsi Sulawesi Tengah disebabkan oleh kenaikan pada Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat khususnya komoditas kakao yang naik sebesar 8,88 persen. Penurunan terbesar NTP di Provinsi Papua Barat disebabkan oleh penurunan pada Subsektor Tanaman Hortikultura khususnya komoditas cabai rawit yang turun sebesar 16,08 persen.

Januari-Desember 2023 NTP Tanaman Hortikultura 111,76 sedang Januari-Desember 2024 117,71 terjadi kenaikan 5.33%.

Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) merupakan perbandingan antara Indeks Harga yang Diterima oleh Petani (It) dengan Indeks Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM). Secara nasional, NTUP Januari–Desember 2024 lebih tinggi 8,00 persen dibandingkan NTUP Tahun 2023 pada periode yang sama.

NTUP Tanaman Hortikultura Desember 2024 122,72 atau naik 5,66% dibanding Novermber 2024. Lt 143,67 naik 5,86% sedag BPPBM 117,07 naik (0,9%). Andil komoditas BPPBM bibit bawang merah 0,12%, upah mencangkul 0,01%, sewa lahan tanah 0.01%.

 

Berita Terkait

WAJIB DICICIPI : DURIAN BAWOR ASLI BANYUMAS

  • 05 Januari 2025, 6:50 PM

Kementan Perluas Areal Tanam Bawang Putih di Lereng Gunung Wilis Tulungagung

  • 05 Januari 2025, 6:50 PM

Awal Kisah Pisang Mas Tanggamus Go Internasional

  • 05 Januari 2025, 6:50 PM

Brebes Panen Bawang Merah Setiap Hari

  • 05 Januari 2025, 6:50 PM

Berita Terpopuler

  • Keren, Aplikasi Ini Bisa Identifikasi Aneka Jenis Tanaman
    22 Januari 2019, 11:45 AM
  • Kenali Ragam Jenis Alpukat: Mentega, Miki, sampai Kendil
    07 Mei 2024, 1:00 PM
  • Kenali Tiga Tahap Fase Pertumbuhan Tanaman Jagung
    18 Maret 2024, 10:53 AM
  • Cara Menanam Pohon Mangga dan Tips Agar Cepat Berbuah
    29 April 2024, 11:31 AM
  • 10 Jenis Durian Terpopuler di Indonesia, Enak dan Legit!
    01 Oktober 2024, 3:58 PM
  • VARIETAS KENTANG YANG COCOK DIOLAH JADI KERIPIK
    06 November 2019, 4:25 PM
  • Menanam Stroberi dengan Sistem Hidroponik
    11 September 2018, 11:23 AM
  • Sunpride Pecahkan Rekor MURI untuk Pajangan Pisang Terbanyak
    02 Juni 2024, 5:11 PM
  • DIRIKAN INDUSTRI OLAHAN HORTIKULTURA UNTUK PRODUK GRADE RENDAH YANG TIDAK LAKU DI PASAR SEGAR
    19 Agustus 2024, 6:53 PM
  • PEMULIAAN UNTUK HASILKAN VUB JERUK
    18 Juni 2024, 1:11 AM

Kategori Berita

  • Buah
  • Sayur
  • Herbal
  • Tanaman Hias
  • Gaya Hidup
  • Tips & Trik
  • InovTek
  • Jelajah
  • Sosok
  • Etalase
© Hortikultura Indonesia 2018 - 2026. All Right Reserved