• Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Profil
    Redaksi Hubungi Kami
  • Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Tentang Kami
  • Sejarah
  • Hubungi Kami
  1. Beranda
  2. Berita
  3. PATEMO, PETANI PLASMA SAWIT, RAUP PULUHAN JUTA DARI TUMPANGSARI HORTIKULTURA

PATEMO, PETANI PLASMA SAWIT, RAUP PULUHAN JUTA DARI TUMPANGSARI HORTIKULTURA

  • 20 Juli 2020, 8:47 AM
  • Kilas
  • HORTI INDONESIA

Patemo kelahiran Kediri merantau ke Kutai Timur dan bekerja di sebuah perusahaan HTI. Setelah 10 tahun bekerja dirasakan tidak ada kemajuan dalam ekonomi, padahal salah satu cita-citanya adalah bisa membagikan hartanya untuk menolong orang lain. Karena itu Patemo merubah haluan dan menjadi transmigrasi lokal untuk menjadi petani plasma kelapa sawit.

Di tempatkan di kawasan transmigrasi di Bengalon , Kutai Timur. Menjadi petani plasma, selain mendapat 2 ha kebun sawit (istilahnya lahan dua), juga 0,5 ha lahan pekarangan dan 0,75 haistilahnya lahan satu.

Untuk lahan satu dan pekarangan , Patemo juga mendapat bantuan bibit sawit dari perusahaan. “Tetapi saya berpikir kalau mengandalkan sawit saja yang baru berbuah setelah tiga tahun, darimana saya dapat penghasilan sebelum berbuah. Akhirnya saya memutuskan untuk tumpang sari dengan hortikultura,” katanya dalam webinar seri #4 Forum Diskusi Sawit “Mengoptimalkan Potensi Petani Kelapa Sawit” yang diselenggarakan Media Perkebunan.

Sebenarnya kalau untuk sekedar makan saja, menjadi petani plasma transmigrasi tidak ada masalah. Tetapi niat untuk meningkatkan perekonomian membuat Patemo saat itu dan masih berlanjut sampai sekarang melakukan tumpang sari. Penghasilan dari semangka saja Rp10 juta/bulan. Dengan tumpang sari ini berapapun harga TBS, bahkan sampai anjlokpun tidak menjadi masalah bagi Patemo.

Patemo bergabung ke Gabungan Kelompok Tani dalam menjalankan usahanya. Dilakukan juga penanaman jeruk. Bedanya dengan tumpang sari lain adalah tanam jeruk dulu setelah tiga tahun yaitu jeruk berbuah baru menanam kelapa sawit. Jeruk sudah lima kali panen dengan produksi terakhr 20 ton.

Tahun 2008 juga dilakukan integrasi sapi sawit. Lahan Gapoktan 25 ha diisi 135 ekor sapi. Kalau beternak secara biasa yaitu mengandalkan pelepah sawit untuk pakan, kapasitasnya hanya 50 ekor sapi. Patemo beternak sapi sistim semi intensif, yang pakannya selain pelepah sawit yang sudah dicacah halus, juga menanam hijaun pakan ternak seperti rumput gajah, king grass dan lain-lain seluas 4 ha. Sebagai pakan tambahan adalah bungkil sawit.


Baca Juga: Kaya Varietas, Malang Terus Genjot Komoditas Jeruk

Sapi dikandangkan dan setiap jam 2 dikeluarkan untuk pengambilan kotoran sapi guna pembuatan kompos. Sapi masuk kandang lagi jam 5-6 sore dan diberi pakan. Sapi yang dilepas dikebun sawit pada jam itu memakan rumput sehingga kebun sawit Gapoktan tidak pernah disemprot herbisida.

Kompos dibuat dari pencampuran janjang kosong dengan kotoran sapi. Kompos ini selain digunakan untuk kebun sendiri juga memasok keperluan sebuah perusahaan pertambangan. Penggunaan kompos ini mampu mengurangi penggunaan pupuk kimia sampai 40%. Dengan punya kompos maka Petamo tidak terlalu berpengaruh bila pupuk langka dan mahal.

 

Produksi sawit sendiri saat ini adalah 2 ton TBS/bulan/ha.Saat ini integrasi sapi sawit Patemo menjadi tempat belajar mahasiswa Stiper. Diakui salah satu pendukung kesuksesannya adalah daerah Kutai Timur yang berkembang dengan pesat karena banyaknya investasi kebun sawit. Semangka, jeruk dan sayur semuanya dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan pegawai perkebunan di sekitarnya.

Patemo tidak melakukan tumpang sari dengan jagung karena di Kutim tidak ada mitra pabrik pakan yang bisa membeli dengan jumlah besar. Pernah menanam jagung dengan produksi 5 ton, sampai saat ini tidak habis-habis karena pembelinya adalah peternak ayam kecil sekitar yang keperluanya sedikit. Dengan berbagai bisnis yang ditekuninya, pendapatan Patemo perbulan puluhan juta rupiah, sama dengan GM kebun-kebun sawit di sekitarnya.

 

Berita Terkait

WAJIB DICICIPI : DURIAN BAWOR ASLI BANYUMAS

  • 20 Juli 2020, 8:47 AM

Kementan Perluas Areal Tanam Bawang Putih di Lereng Gunung Wilis Tulungagung

  • 20 Juli 2020, 8:47 AM

Awal Kisah Pisang Mas Tanggamus Go Internasional

  • 20 Juli 2020, 8:47 AM

Brebes Panen Bawang Merah Setiap Hari

  • 20 Juli 2020, 8:47 AM

Berita Terpopuler

  • Keren, Aplikasi Ini Bisa Identifikasi Aneka Jenis Tanaman
    22 Januari 2019, 11:45 AM
  • Kenali Ragam Jenis Alpukat: Mentega, Miki, sampai Kendil
    07 Mei 2024, 1:00 PM
  • Kenali Tiga Tahap Fase Pertumbuhan Tanaman Jagung
    18 Maret 2024, 10:53 AM
  • 10 Jenis Durian Terpopuler di Indonesia, Enak dan Legit!
    01 Oktober 2024, 3:58 PM
  • Cara Menanam Pohon Mangga dan Tips Agar Cepat Berbuah
    29 April 2024, 11:31 AM
  • VARIETAS KENTANG YANG COCOK DIOLAH JADI KERIPIK
    06 November 2019, 4:25 PM
  • Menanam Stroberi dengan Sistem Hidroponik
    11 September 2018, 11:23 AM
  • DIRIKAN INDUSTRI OLAHAN HORTIKULTURA UNTUK PRODUK GRADE RENDAH YANG TIDAK LAKU DI PASAR SEGAR
    19 Agustus 2024, 6:53 PM
  • Sunpride Pecahkan Rekor MURI untuk Pajangan Pisang Terbanyak
    02 Juni 2024, 5:11 PM
  • PEMULIAAN UNTUK HASILKAN VUB JERUK
    18 Juni 2024, 1:11 AM

Kategori Berita

  • Buah
  • Sayur
  • Herbal
  • Tanaman Hias
  • Gaya Hidup
  • Tips & Trik
  • InovTek
  • Jelajah
  • Sosok
  • Etalase
© Hortikultura Indonesia 2018 - 2026. All Right Reserved