• Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Profil
    Redaksi Hubungi Kami
  • Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Tentang Kami
  • Sejarah
  • Hubungi Kami
  1. Beranda
  2. Berita
  3. Pemberdayaan Kelompok Tani Milenial di Cilacap Mampu Menekan Margin Harga Cabai

Pemberdayaan Kelompok Tani Milenial di Cilacap Mampu Menekan Margin Harga Cabai

  • 26 Februari 2021, 5:34 PM
  • Kilas
  • HORTI INDONESIA
Cilacap, hortiindonesia.com - Kabupaten Cilacap merupakan salah satu kabupaten yang masuk dalam 10 besar penyumbang produksi cabai tertinggi untuk Provinsi Jawa Tengah. 
 
Selain potensi lahan yang subur dan cocok untuk pengembangan cabai, semangat petani-petani muda yang tergabung dalam kelompok milenial juga menjadi salah satu faktor keberhasipan. Mereka mampu menciptakan gebrakan baru dalam pemasaran cabai di Cilacap. 
 
Selama ini, sebagian besar petani cabai di Kabupaten Cilacap bergantung pada tengkulak.  Tengkulak memberikan modal usaha bagi petani cabai dan petani harus menjual hasil panennya kepada tengkulak tersebut. Penjualan melalui tengkulak dirasa tidak transparan dari sisi harga. Selisih harga yang diterima petani dengan harga di pasar mencapai Rp 15.000/kg. 
 
Rantai tata niaganya pun panjang. Dari petani ke tengkulak, kemudian ke pedagang-pedagang besar, dilanjutkan ke bandar dan baru ke pasar. 
 
Berdasarkan latar belakang tersebut, Kelompok Tani Milenial "Karya Muda" yang merupakan bentukan dan binaan Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap bersama-sama dengan PPL menginisiasi untuk memotong rantai tata niaga cabai dari petani hingga pasar. Mereka melakukan jual-beli cabai secara transparan dan bisa menekan margin harga. 
 
Dengan adanya pola pemasaran dari Kelompok Tani Milenial "Karya Muda", petani mulai banyak yang mengusahakan cabainya dengan modal sendiri dan mengurangi pinjaman modal dari tengkulak. Saat ini sudah 10 persen dari 70 petani cabai di Desa Palugon, Kec. Wanareja yang menanam cabai dengan modal sendiri dan menjual hasil panennya melalui Nasihin, ketua Kelompok Tani Milenial.
 
Rasam, salah satu petani cabai asal Desa Palugon, Kec. Wanareja, Cilacap saat ditemui di lahannya menjelaskan bahwa pihaknya sangat senang dengan adanya Kelompok Tani Milenial.
 
"Saya sangat senang dengan adanya Pak Nasihin itu. Kalau dulu kami menjual cabai lewat tengkulak perbedaan harganya yang kami terima dan harga di pasar sampai Rp 15.000/kg. Setelah lewat Pak Nasihin, sebelum cabainya diangkut saja kami sudah dikasih tahu harganya. Perbedaan harganya juga hanya Rp 5.000/kg. Terkadang pembayarannya juga langsung kita terima pada waktu cabainya diambil. Kami jadi semangat tanam dengan modal sendiri," jelas Rasam.
 
Senada dengan pernyataan Rasam, PPL Kecamatan Wanareja, Jejen membenarkan hal tersebut. Jejen menjelaskan bahwa dengan adanya pemasaran cabai melalui Kelompok Tani Milenial, semakin banyak petani yang menanam dengan modal sendiri. 
 

Baca Juga: Pisang Jadi Primadona di Sulbar, Produksinya Ungguli Buah Lain

Margin harga yang diambil oleh Pak Nasihin hanya Rp 5.000/kg dan dari margin itu, tidak sepenuhnya menjadi keuntungan Pak Nasihin, melainkan sudah termasuk ongkos angkut dan disisihkan untuk kas kelompok. 
 
"Tidak hanya itu, Kelompok Tani Milenial juga sedang mulai mengembangkan agrowisata. Saat ini, sudah tanam cabai seluas 3 hektare. Ke depan akan mengembangkan tabulampot. Kami juga menggandeng KWT untuk pengolahan cabai. Tidak hanya cabai segar, tapi cabai hasil sortiran dari yang dipasarkan Pak Nasihin pun dikeringkan. Jadi, tidak ada cabai yang terbuang," ujar Jejen. 
 
Pengembangan cabai di Cilacap mendapatkan dukungan baik dari Dinas Pertanian, Ditjen Hortikultura, dan Kementerian Pertanian. 
 
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap, Supriyanto, saat ditemui di kantor dinas pada awal Februari mengungkapkan bahwa dinas telah menginisiasi program "Lapak Petani". Konsep Lapak Petani ini adalah mendekatkan konsumen akhir dengan petani, sehingga dapat turut memotong margin harga di tingkat petani dan konsumen. 
 
Lapak Petani memberikan ruang kepada petani untuk berjualan langsung ke konsumen akhir dengan sasaran pasar adalah pegawai pemda dan juga masyarakat setempat. Lapak Petani sangat membantu petani, terlebih saat harga sedang jatuh.
 
Program Lapak Petani ini sejalan dengan program-program yang dijalankan Kementan. Di bawah Mentan Syahrul Yasin Limpo (SYL),  Kementan selalu berusaha merancang program yang berpihak kepada petani. Di mulai dari sisi hulu, pendampingan budidaya hingga pascapanen.
 
Dessi Rahmaniar, Koordinator Kelompok Aneka Cabai Ditjen Hortikultura menyampaikan bahwa dengan segala potensi, baik alam dan SDM yang dimiliki oleh Kabupaten Cilacap, sangat prospektif untuk pengembangan kawasan cabai. Dukungan Ditjen Hortikultura terus mengalir guna mendukung pengembangan cabai di wilayah ini. Saat kunjungan lapangan, Dessi juga melihat calon lokasi kampung cabai yang akan dijadikan salah satu kampung sayuran pada program Kampung Hortikultura tahun 2021. 
 
Pada 2020, Ditjen Hortikultura telah mengalokasikan bantuan fasilitasi kawasan cabai seluas 30 hektare. Sementara itu, pada 2021 bantuan fasilitasi juga dialokasikan untuk kawasan seluas 30 hektare dengan konsep pengembangan Kampung Cabai, yang mana luasannya minimal 5 hektare per kampung.
 
Fasilitasi lain dari Ditjen Hortikultura adalah berupa bantuan benih dari Direktorat Perbenihan Hortikultura dan sarana pascapanen, seperti dome untuk pengering cabai dari Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura. 
 
"Harapan kami, bantuan tersebut bisa dimanfaatkan sebaik mungkin. Khususnya untuk bantuan fasilitasi kawasan atau kampung cabai agar dapat dimanfaatkan di bulan-bulan off season guna menstabilkan harga di bulan-bulan yang biasa bergejolak yakni Desember-Januari," ujar Dessi.

Berita Terkait

WAJIB DICICIPI : DURIAN BAWOR ASLI BANYUMAS

  • 26 Februari 2021, 5:34 PM

Kementan Perluas Areal Tanam Bawang Putih di Lereng Gunung Wilis Tulungagung

  • 26 Februari 2021, 5:34 PM

Awal Kisah Pisang Mas Tanggamus Go Internasional

  • 26 Februari 2021, 5:34 PM

Brebes Panen Bawang Merah Setiap Hari

  • 26 Februari 2021, 5:34 PM

Berita Terpopuler

  • Keren, Aplikasi Ini Bisa Identifikasi Aneka Jenis Tanaman
    22 Januari 2019, 11:45 AM
  • Kenali Ragam Jenis Alpukat: Mentega, Miki, sampai Kendil
    07 Mei 2024, 1:00 PM
  • Kenali Tiga Tahap Fase Pertumbuhan Tanaman Jagung
    18 Maret 2024, 10:53 AM
  • 10 Jenis Durian Terpopuler di Indonesia, Enak dan Legit!
    01 Oktober 2024, 3:58 PM
  • Cara Menanam Pohon Mangga dan Tips Agar Cepat Berbuah
    29 April 2024, 11:31 AM
  • VARIETAS KENTANG YANG COCOK DIOLAH JADI KERIPIK
    06 November 2019, 4:25 PM
  • Menanam Stroberi dengan Sistem Hidroponik
    11 September 2018, 11:23 AM
  • DIRIKAN INDUSTRI OLAHAN HORTIKULTURA UNTUK PRODUK GRADE RENDAH YANG TIDAK LAKU DI PASAR SEGAR
    19 Agustus 2024, 6:53 PM
  • Sunpride Pecahkan Rekor MURI untuk Pajangan Pisang Terbanyak
    02 Juni 2024, 5:11 PM
  • PEMULIAAN UNTUK HASILKAN VUB JERUK
    18 Juni 2024, 1:11 AM

Kategori Berita

  • Buah
  • Sayur
  • Herbal
  • Tanaman Hias
  • Gaya Hidup
  • Tips & Trik
  • InovTek
  • Jelajah
  • Sosok
  • Etalase
© Hortikultura Indonesia 2018 - 2026. All Right Reserved