• Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Profil
    Redaksi Hubungi Kami
  • Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Tentang Kami
  • Sejarah
  • Hubungi Kami
  1. Beranda
  2. Berita
  3. PETANI HORTIKULTURA HARUS BERADAPTASI DENGAN KELANGKAAN AIR

PETANI HORTIKULTURA HARUS BERADAPTASI DENGAN KELANGKAAN AIR

  • 23 Desember 2021, 2:22 PM
  • Kilas, Budidaya

Bogor, Hortiindonesia.com

Data peta indeks pemakaian air wilayah sungai yang dikeluarkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat  tahun 2011 menunjukkan permintaan air di Pulau Jawa yang merupakan sentra hortikultura sudah melebihi pasokan. “Jadi ada tidaknya perubahan iklim air tetap akan menjadi masalah bagi hortikultura,” kata Suria Tarigan dari Center for Transdisciplinary and Sustainability Scienses, IPB, University.

Hortikultura yang ditanam di dataran rendah Jawa telatif tidak ada masalah dengan air karena rata-rata ditanam di daerah irigasi dan berselang-seling dengan padi. Sedang yang tidak di daerah irigasi seperti di Jember petani banyak yang punya sumur. Sumur relatif dangkal karena ada aliran air tanah dari dataran tinggi.

Sedang di dataran tinggi dengan ketinggian diatas 900 m dpl yang banyak ditanam cabai dan tomat air menjadi masalah. Rata-rata petani membuat tandon penampung air pada musim hujan untuk digunakan pada musim kemarau.

Pada musim kering yang harus diantisipasi adalah hari tanpa hujan. Data hari tanpa hujan bisa diambil dari situs BKMG berdasarkan histori bukan real time, atau dari situs SMAP yang memetakan kandungan air tanah setiap harinya. Saat ini perusahaan Ewindo juga sudah membuat aplikasi yang memuat informasi curah hujan. Petani harus mulai akrab dengan teknologi untuk mendeteksi hari tanpa hujan ini.

Irigasi menjadi hal yang penting bila hari tanpa hujan lebih dari 5 hari. Tanaman harus segera mendapat air, jangan sampai mencapai titik layu permanen. Pada masa reproduksi titik layu permanen hanya menyebabkan produksi turun tetapi pada masa vegetatif akan gagal panen.

Adapatasi terhadap kelangkaan air dengan water harvesting yaitu membuat embung untuk menampung kelebihan air hujan. Embung menjadi sumber irigasi suplementer pada musim kemarau atau saat curah hujan mulai jarang. Cara ini adalah yang paling sesuai untuk segala jenis agroekosistem. Embung dengan luas 16 m2 sedalam 2 m mampu mengairi 100 m2 selama musim kemarau.

Cara lainnya adalah meningkatkan kapasitas menahan air tanah dengan menambah bahan organik ke dalam tanah. Hasil penelitian di luar negeri dan sangat relevan di sini adalah 1% tambahan kandungan organik mampu menahan 20.000 galon per acre. Kalau diterapkan di Indonesia bila 4.000 m2 tanah kandungan organiknya naik 1% maka mampu menahan air 90.000 liter setara dengan 3 embung ukuran 16 m2 atau 18 truk tangki air.


Baca Juga: Belum Banyak yang Tahu, 3 Tanaman Ini Bisa Cegah Dampak Perubahan Iklim

Adaptasi lainnya adalah dengan pola tanam. Tanam pada waktu musim hujan (sekitar bulan Februari) dan ketika musim kemarau datang maka tanaman sudah mampu bertahan hidup dengan suply air yang minim. Tetapi dengan pola ini sering terjadi panen bersamaan sehingga harga jatuh dan Ditjen Horti minta diatur supaya selalu ada panen. Tanam diubah jadi Juli-Oktober sehingga panen November –Maret. Untuk itu perlu bantuan pompa air dan irigasi tetes.

Sedang secara makro dan harus dilakukan oleh pemerintah adalah meresapkan sebanyak air di DAS dengan agroforestry dan revegatasi. Suria punya pengalaman melakukan rehabilitas lahan di Megamendung tahun 2002-2003 dengan kondisi lahan kritis, kemiringan 150 – 180  seperti mangkuk, mata air mati, 70% alang-alang, vegetasi sangat sedikit ph 2,5-4, cacaing tidak ada.

Penghutanan kembali 4 tahun pertama (2001-2005) terlihat cukup baik, kualitas tanah tidak berubah secara significant, tetapi ekosistem membaik dengan munculnya 2 mata air. Air diangkat memakai pompa hydram dan digunakan untuk irigasi kebun.

Sedang untuk lahan sempit menggunakan irigasi mikro. Efisiensinya tinggi namun efektivitasnya harus ditunjang teknologi tinggi seperti solar pump yang murah untuk lifting air dari embung ke tangki air.

 

 

 

 

Berita Terkait

WAJIB DICICIPI : DURIAN BAWOR ASLI BANYUMAS

  • 23 Desember 2021, 2:22 PM

Kementan Perluas Areal Tanam Bawang Putih di Lereng Gunung Wilis Tulungagung

  • 23 Desember 2021, 2:22 PM

Awal Kisah Pisang Mas Tanggamus Go Internasional

  • 23 Desember 2021, 2:22 PM

Brebes Panen Bawang Merah Setiap Hari

  • 23 Desember 2021, 2:22 PM

Berita Terpopuler

  • Keren, Aplikasi Ini Bisa Identifikasi Aneka Jenis Tanaman
    22 Januari 2019, 11:45 AM
  • Kenali Ragam Jenis Alpukat: Mentega, Miki, sampai Kendil
    07 Mei 2024, 1:00 PM
  • Kenali Tiga Tahap Fase Pertumbuhan Tanaman Jagung
    18 Maret 2024, 10:53 AM
  • 10 Jenis Durian Terpopuler di Indonesia, Enak dan Legit!
    01 Oktober 2024, 3:58 PM
  • Cara Menanam Pohon Mangga dan Tips Agar Cepat Berbuah
    29 April 2024, 11:31 AM
  • VARIETAS KENTANG YANG COCOK DIOLAH JADI KERIPIK
    06 November 2019, 4:25 PM
  • Menanam Stroberi dengan Sistem Hidroponik
    11 September 2018, 11:23 AM
  • DIRIKAN INDUSTRI OLAHAN HORTIKULTURA UNTUK PRODUK GRADE RENDAH YANG TIDAK LAKU DI PASAR SEGAR
    19 Agustus 2024, 6:53 PM
  • Sunpride Pecahkan Rekor MURI untuk Pajangan Pisang Terbanyak
    02 Juni 2024, 5:11 PM
  • PEMULIAAN UNTUK HASILKAN VUB JERUK
    18 Juni 2024, 1:11 AM

Kategori Berita

  • Buah
  • Sayur
  • Herbal
  • Tanaman Hias
  • Gaya Hidup
  • Tips & Trik
  • InovTek
  • Jelajah
  • Sosok
  • Etalase
© Hortikultura Indonesia 2018 - 2026. All Right Reserved