• Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Profil
    Redaksi Hubungi Kami
  • Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Tentang Kami
  • Sejarah
  • Hubungi Kami
  1. Beranda
  2. Berita
  3. PETANI JAYAPURA DIDORONG HASILKAN SAYUR AMAN KONSUMSI

PETANI JAYAPURA DIDORONG HASILKAN SAYUR AMAN KONSUMSI

  • 29 Juli 2019, 3:49 PM
  • Buah, Sayur

Kementerian Pertanian mendukung pengembangan  hortikultura di Papua. Wilayah ini memiliki   lahan yang masih luas dan subur, sebagian  juga  memiliki topografi dataran tinggi beriklim sejuk yang cocok untuk pengembangan komoditas sayuran.

Petani di  sekitar Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura membudidayakan cabai, tomat, bayam, kangkung, bawang merah. Untuk buah-buahan terdapat melon, semangka, pepaya dan buah naga yang mulai berkembang saat ini.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten  Jayapura Adolf Yokhu, menyampaikan bahwa salah satu program prioritas 2019 adalah merubah pola pertanian tradisional ke cara bertani modern.

"Selain itu merubah cara pandang bertani yang semula memenuhi kebutuhan harian menjadi sumber pemasukan ekonomi keluarga. Hal ini guna menindaklanjuti arahan kepala daerah agar petani mampu memenuhi kebutuhan pangan lokal seperti beras, sayuran dan buah-buahan dan sejumlah kebutuhan pangan lainnya yang bernilai ekonomis sebagai wujud suksesnya ekonomi," katanya.

Ditjen Hortikultura pada 2019 mengalokasikan APBN  disini  untuk  kawasan aneka cabai seluas  185  hektare, pengembangan kawasan bawang merah umbi 45 hektare dan biji seluas 30   hektare, pengembangan kawasan bawang putih seluas 30 hektare. Selanjutnya terdapat pengembangan sayuran untuk kawasan perbatasan seluas  55 hektare dan kawasan tanaman obat khusus buah merah 25 hektare. 

"Untuk pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) cabai dan bawang merah, tahun ini Provinsi Papua mendapatkan total alokasi dana dari pusat seluas 35 hektare dengan rincian, gerakan pengendalian OPT cabai seluas 27   hektare dan gerakan pengendalian OPT bawang merah seluas 8 hektare," ujar Kepala Subdirektorat Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan Sayuran dan Tanaman Obat, Nadra Illiyana.

Nadra menjelaskan, gerakan pengendalian OPT diarahkan untuk memanfaatkan bahan ramah lingkungan dalam bentuk perbanyakan agens hayati dan pestisida nabati. Hal ini terus disampaikan petugas POPT setempat yang merupakan ujung tombak penerapan pengendalian OPT  di wilayah binaannya.


Baca Juga: Indonesia Gandeng Taiwan Menuju Pertanian Buah Naga Organik

Dengan dukungan Kementerian Pertanian, Pemerintah   Provinsi Papua berupaya mencapai swasembada sayuran   dengan memanfaatkan lahan tidur dan lahan pekarangan.

Berkembangnya aneka budidaya sayuran, kata Nadra, POPT dan petani perlu meningkatkan kemampuan pengendalian dan penanganan OPT. Gerakan pengendalian OPT dilaksanakan Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Papua (BPTPH) bersama petani sebagai stimulan pengamanan produksi.

Saat memberikan bimbingan teknis di lahan cabai milik Wagiran yang berada di Distrik Arso X serta lahan bawang merah di Kelompok Tani Sri Rejeki yang diketuai Sutris di Kampung Yaturaharja Kabupaten Keerom, dirinya bersama    Koordinator POPT, Yunus memberikan apresiasi atas semangat petani membudidayakan sayuran. Paling tidak sayuran yang banyak
dibutuhkan warga Kabupaten dan Kota Jayapura tak perlu lagi didatangkan dari luar.

"Teruslah bertanam agar bisa memenuhi kebutuhan sendiri. Selanjutnya petani perlu merubah perilaku dan pola usaha taninya ke pola budidaya intensif yang berwawasan lingkungan. Dengan demikian potensi yang dimiliki dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin," papar Nadra.

Selama ini sayuran dataran rendah seperti tomat, cabai, terong, sawi, kangkung, bayam, kacang panjang, buncis dan labu siam selain dipasarkan ke pasar tradisional juga dijual ke pasar modern.

Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan sosialisasi waspada OPT Spodoptera frugiperda. Nadra memberikan bimbingan pengendalian OPT ramah lingkungan serta pemberian bantuan fasilitasi sarana pengendalian OPT   sebagai stimulan.

"Gunakan agens hayati Trichoderma sp., PGPR, pestisida nabati dari akar tuba, pemasangan feromon seks untuk ulat bawang. Semoga dengan kegigihan para petani, Jayapura dapat menghasilkan sayuran yang sehat dan aman konsumsi serta meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani," ujar Nadra.

Berita Terkait

WAJIB DICICIPI : DURIAN BAWOR ASLI BANYUMAS

  • 29 Juli 2019, 3:49 PM

Kementan Perluas Areal Tanam Bawang Putih di Lereng Gunung Wilis Tulungagung

  • 29 Juli 2019, 3:49 PM

Awal Kisah Pisang Mas Tanggamus Go Internasional

  • 29 Juli 2019, 3:49 PM

Brebes Panen Bawang Merah Setiap Hari

  • 29 Juli 2019, 3:49 PM

Berita Terpopuler

  • Keren, Aplikasi Ini Bisa Identifikasi Aneka Jenis Tanaman
    22 Januari 2019, 11:45 AM
  • Kenali Ragam Jenis Alpukat: Mentega, Miki, sampai Kendil
    07 Mei 2024, 1:00 PM
  • Kenali Tiga Tahap Fase Pertumbuhan Tanaman Jagung
    18 Maret 2024, 10:53 AM
  • 10 Jenis Durian Terpopuler di Indonesia, Enak dan Legit!
    01 Oktober 2024, 3:58 PM
  • Cara Menanam Pohon Mangga dan Tips Agar Cepat Berbuah
    29 April 2024, 11:31 AM
  • VARIETAS KENTANG YANG COCOK DIOLAH JADI KERIPIK
    06 November 2019, 4:25 PM
  • Menanam Stroberi dengan Sistem Hidroponik
    11 September 2018, 11:23 AM
  • DIRIKAN INDUSTRI OLAHAN HORTIKULTURA UNTUK PRODUK GRADE RENDAH YANG TIDAK LAKU DI PASAR SEGAR
    19 Agustus 2024, 6:53 PM
  • Sunpride Pecahkan Rekor MURI untuk Pajangan Pisang Terbanyak
    02 Juni 2024, 5:11 PM
  • PEMULIAAN UNTUK HASILKAN VUB JERUK
    18 Juni 2024, 1:11 AM

Kategori Berita

  • Buah
  • Sayur
  • Herbal
  • Tanaman Hias
  • Gaya Hidup
  • Tips & Trik
  • InovTek
  • Jelajah
  • Sosok
  • Etalase
© Hortikultura Indonesia 2018 - 2026. All Right Reserved