• Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Profil
    Redaksi Hubungi Kami
  • Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Tentang Kami
  • Sejarah
  • Hubungi Kami
  1. Beranda
  2. Berita
  3. Webinar “Pengendalian OPT pada Tanaman Jagung dan Kentang”: Sinergi Inovasi dan Teknologi Wujudkan Pertanian Efisien dan Berkelanjutan

Webinar “Pengendalian OPT pada Tanaman Jagung dan Kentang”: Sinergi Inovasi dan Teknologi Wujudkan Pertanian Efisien dan Berkelanjutan

  • 02 Juni 2025, 9:17 AM
  • Sayur, InovTek
  • HORTI INDONESIA

Jakarta, hortiindonesia.com - Dalam rangka mendukung ketahanan pangan nasional dan meningkatkan produktivitas dua komoditas strategis jagung dan kentang, Horti Indonesia menggelar webinar nasional bertajuk “Pengendalian OPT pada Tanaman Jagung dan Kentang” pada hari Rabu, 21 Mei 2025 secara daring. 

Dipandu oleh Dr. Askif Pasaribu, M.Si. yang merupakan anggota dari Perkumpulan Praktisi Profesional Perkebunan Indonesia (p3pi), webinar ini bertujuan memberikan edukasi teknis serta mendorong transformasi praktik pengendalian OPT yang lebih efisien, aman, dan berkelanjutan di tingkat petani dengan menghadirkan para narasumber berpengalaman yang membagikan solusi nyata dalam pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) secara efektif dan ramah lingkungan. 

Acara yang berlangsung secara daring ini berhasil menarik ratusan peserta dari berbagai daerah, mulai dari petani, penyuluh pertanian, pelaku usaha, hingga akademisi. Diskusi berfokus pada inovasi teknologi, pendekatan pengendalian yang adaptif terhadap perubahan iklim, dan efisiensi biaya dalam budidaya jagung dan kentang.

Perlindungan Hortikultura Harus Ramah Lingkungan

Wita Khaira, SP., M.Si., Ketua Kelompok OPT Sayuran dari Direktorat Perlindungan Hortikultura, menyampaikan bahwa pendekatan ramah lingkungan menjadi prinsip utama dalam pengendalian OPT di sektor hortikultura. “Perlindungan hortikultura berperan penting dalam mengamankan produksi dari serangan OPT dan dampak perubahan iklim. Kami selalu mengutamakan pendekatan ramah lingkungan terlebih dahulu sebelum penggunaan pestisida,” ujar Wita dalam paparannya.

Ia menekankan pentingnya penerapan prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT) oleh petani. “Penerapan PHT hendaknya dikembangkan oleh petani sendiri sesuai dengan keadaan ekosistem setempat,” tegasnya. PHT sendiri mencakup beberapa langkah kunci seperti budidaya tanaman sehat, pemanfaatan musuh alami, pengamatan secara rutin, dan peningkatan kapasitas petani agar menjadi ahli di lahannya sendiri.

Wita juga memaparkan keberhasilan inovasi teknologi mikroba intensif hasil kolaborasi dengan Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan IPB. Teknologi ini berhasil menurunkan penggunaan pestisida hingga 100% pada uji coba budidaya cabai di enam lokasi berbeda. “Melalui kerjasama dengan IPB, kami berhasil mengurangi penggunaan pestisida hingga 100% pada tanaman cabai. Bahkan biaya produksi bisa turun hingga 27%,” paparnya.

Lebih jauh, Wita menjelaskan bahwa pemerintah juga mendorong adopsi teknologi digital, termasuk sistem pemantauan berbasis AWS (Automatic Weather Station). “Kami akan memasang AWS yang bisa memberi prediksi iklim 10 hari ke depan, dan rekomendasi mitigasi akan langsung dikirimkan ke petani lewat aplikasi di ponsel mereka,” jelasnya.

Selain pendekatan individual dan digital, pemerintah juga mengembangkan pendekatan berbasis komunitas melalui program Kampung Perlindungan Hortikultura. Program ini telah berjalan di berbagai daerah seperti Solok, Brebes, Bantul, dan Garut. Dengan fasilitas seperti klinik PHT, demplot, dan gerakan pengendalian OPT, program ini bertujuan membentuk sistem pertanian hortikultura yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Pengendalian Gulma Kentang: Efisien dan Terjangkau


Baca Juga: Produk Olahan Cabai Tingkatkan Daya Saing Produksi

Dari sektor industri, Fitrah Ramadhan selaku Product Manager Vegetable Nufarm Indonesia, mengangkat isu krusial yang sering diabaikan: gulma pada budidaya kentang. Menurutnya, serangan gulma bisa menyebabkan penurunan hasil panen hingga lebih dari 60%. “Gulma sering dianggap sepele, padahal kontribusinya dalam menurunkan hasil panen bisa mencapai 12–61%,” kata Fitrah.

Ia menjelaskan bahwa selama ini petani mengandalkan metode mekanis seperti pencabutan manual atau penggunaan mulsa plastik, namun keduanya mahal dan tidak efisien. “Untuk mencabut gulma secara manual di lahan satu hektar bisa menghabiskan biaya hingga Rp3 juta per musim tanam,” ungkapnya. Solusi yang ditawarkan Nufarm adalah herbisida Matte 70 WP berbahan aktif metribuzin 70%.

“Dengan dosis hanya 500 gram per hektar dan harga sekitar Rp65.000–Rp70.000 per 100 gram, maka biaya pengendalian gulma bisa ditekan hingga Rp400.000 per hektar,” jelas Fitrah. Selain efisien secara biaya, herbisida ini juga terbukti aman bagi tanaman utama seperti kentang dan tomat, tanpa menimbulkan fitotoksisitas.

Ia menambahkan, “Jika gulma tidak dikendalikan di fase kritis 0–45 hari setelah tanam, maka kehilangan hasil panen tak bisa dihindari.” Herbisida Matte 70 WP telah diuji di lebih dari 20 lokasi dan memberikan hasil positif dalam pengendalian gulma hingga 30 hari setelah aplikasi, dengan tingkat pertumbuhan ulang gulma yang sangat rendah.

Strategi Efisien Menghadapi OPT dan Gulma pada Jagung

Sesi berikutnya dipandu oleh Arung Buana, Product Manager Food Crop dari Nufarm Indonesia, yang membahas pengendalian gulma pada tanaman jagung. Ia mengawali dengan menyebutkan sejumlah hama utama yang menyerang jagung di Indonesia, seperti Fall Army Worm (Spodoptera frugiperda), Asian Corn Borer, dan bahkan wereng yang sebelumnya dikenal menyerang padi. Namun, menurutnya, ancaman paling krusial saat ini datang dari gulma.

“Bayangkan Bapak Ibu, kehilangan hasil akibat gulma bisa mencapai 80%. Itu bukan angka kecil. Artinya, dari 1 hektar hanya 20% yang bisa dipanen optimal jika gulma tidak dikendalikan,” jelas Arung. Gulma seperti Echinochloa colona dan Cynodon dactylon semakin banyak ditemukan dan bersaing langsung dengan tanaman jagung untuk air, hara, dan cahaya.

Arung menjelaskan bahwa metode manual dan mekanis untuk mengendalikan gulma kini semakin tidak efisien. “Satu hektar lahan bisa menghabiskan biaya Rp2 juta untuk penyiangan manual, butuh 6 orang, dan makan waktu lebih dari tiga hari,” paparnya. Sementara penggunaan traktor atau hand tool tidak cocok di lahan miring seperti perbukitan, yang justru berisiko bagi keselamatan kerja.

Solusi yang ia tawarkan adalah penggunaan herbisida selektif yang aman untuk jagung namun efektif membasmi gulma. “Jagung usia 15–20 hari bisa disemprot herbisida selektif, asalkan gulma sudah memiliki 2–3 daun. Hasilnya efisien dan low cost,” ungkap Arung.

Biaya pengendalian dengan herbisida selektif hanya sekitar Rp400 ribu per hektar, jauh lebih murah dibandingkan penyiangan manual. Ia juga menyarankan penggunaan produk seperti Roundup untuk persiapan lahan sebelum tanam, dan Atradex atau Conebelt untuk pengendalian saat tanaman tumbuh.

Arung menutup dengan prinsip 6T: tepat sasaran, tepat jenis, tepat waktu, tepat dosis, tepat cara, dan tepat mutu. Ia juga menekankan pentingnya keselamatan kerja. “Paling penting dan jangan lupa penggunaan APD. Ini sangat kita sarankan, khususnya Bapak Ibu petani ya. Safety first, gunakan alat pelindung diri,” tegasnya.

Berita Terkait

WAJIB DICICIPI : DURIAN BAWOR ASLI BANYUMAS

  • 02 Juni 2025, 9:17 AM

Kementan Perluas Areal Tanam Bawang Putih di Lereng Gunung Wilis Tulungagung

  • 02 Juni 2025, 9:17 AM

Awal Kisah Pisang Mas Tanggamus Go Internasional

  • 02 Juni 2025, 9:17 AM

Brebes Panen Bawang Merah Setiap Hari

  • 02 Juni 2025, 9:17 AM

Berita Terpopuler

  • Keren, Aplikasi Ini Bisa Identifikasi Aneka Jenis Tanaman
    22 Januari 2019, 11:45 AM
  • Kenali Ragam Jenis Alpukat: Mentega, Miki, sampai Kendil
    07 Mei 2024, 1:00 PM
  • Kenali Tiga Tahap Fase Pertumbuhan Tanaman Jagung
    18 Maret 2024, 10:53 AM
  • 10 Jenis Durian Terpopuler di Indonesia, Enak dan Legit!
    01 Oktober 2024, 3:58 PM
  • Cara Menanam Pohon Mangga dan Tips Agar Cepat Berbuah
    29 April 2024, 11:31 AM
  • VARIETAS KENTANG YANG COCOK DIOLAH JADI KERIPIK
    06 November 2019, 4:25 PM
  • Menanam Stroberi dengan Sistem Hidroponik
    11 September 2018, 11:23 AM
  • DIRIKAN INDUSTRI OLAHAN HORTIKULTURA UNTUK PRODUK GRADE RENDAH YANG TIDAK LAKU DI PASAR SEGAR
    19 Agustus 2024, 6:53 PM
  • Sunpride Pecahkan Rekor MURI untuk Pajangan Pisang Terbanyak
    02 Juni 2024, 5:11 PM
  • PEMULIAAN UNTUK HASILKAN VUB JERUK
    18 Juni 2024, 1:11 AM

Kategori Berita

  • Buah
  • Sayur
  • Herbal
  • Tanaman Hias
  • Gaya Hidup
  • Tips & Trik
  • InovTek
  • Jelajah
  • Sosok
  • Etalase
© Hortikultura Indonesia 2018 - 2026. All Right Reserved