• Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Profil
    Redaksi Hubungi Kami
  • Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Tentang Kami
  • Sejarah
  • Hubungi Kami
  1. Beranda
  2. Berita
  3. Hartono Ungkap Konsep Bioekonomi Sirkular SSMS Berbasis Integrasi Sawit dan Peternakan

Hartono Ungkap Konsep Bioekonomi Sirkular SSMS Berbasis Integrasi Sawit dan Peternakan

  • 18 September 2026, 10:16 AM
  • Agribisnis
  • HORTI INDONESIA

Tangerang, hortiindonesia.id - Konsep bioekonomi sirkular menjadi salah satu pendekatan yang dikembangkan PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) dalam mengelola bisnis kelapa sawit. Tidak hanya berfokus pada produksi minyak sawit, perusahaan berupaya membangun ekosistem yang menghubungkan perkebunan, peternakan, pengolahan, riset, hingga pemanfaatan hasil samping.

Hal tersebut disampaikan Hartono, Chief Executive Officer (CEO) PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) dalam Seminar Nasional “Masa Depan Pertanian Tropis: Huluisasi dan Hilirisasi untuk Bioekonomi Bernilai Tinggi” yang merupakan bagian dari rangkaian ILDEX 2026, Rabu (16/09/2026).

Hartono menjelaskan, SSMS mengelola areal perkebunan seluas sekitar 136.447 hektare, dengan area tertanam mencapai 94.963 hektare. Areal tersebut didukung oleh 27 perkebunan yang berada di Kalimantan Tengah. Pengelolaan perkebunan dilakukan secara terintegrasi, termasuk melalui keberadaan fasilitas pengolahan di setiap region untuk menjaga efisiensi serta kualitas CPO.

Menurut Hartono, luasnya areal perkebunan memungkinkan perusahaan membangun sebuah ekosistem yang tidak hanya bergantung pada tanaman kelapa sawit. Salah satu bentuk integrasi tersebut adalah pengembangan peternakan sapi di dalam kawasan perkebunan.

SSMS saat ini mengintegrasikan lebih dari 7.000 ekor sapi ke dalam ekosistem perkebunan kelapa sawit. Keberadaan sapi tersebut memiliki fungsi dalam pengelolaan vegetasi di area perkebunan, sementara kotorannya dapat dimanfaatkan sebagai sumber pupuk organik.

Dengan pola tersebut, integrasi sawit dan peternakan menciptakan hubungan yang saling mendukung. Rumput yang tumbuh di area perkebunan dapat dimanfaatkan sebagai pakan sapi, sedangkan limbah peternakan dikembalikan ke ekosistem dalam bentuk pupuk organik. Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya SSMS dalam mengembangkan sistem perkebunan yang lebih sirkular.

Selain mengembangkan integrasi perkebunan dan peternakan, SSMS juga menempatkan keberlanjutan dan ketertelusuran sebagai bagian dari pengelolaan bisnis. Dalam materi presentasinya, perusahaan menyebut telah menerapkan berbagai standar dan sertifikasi, termasuk ISO 9001, ISO 14001, ISO 45001, RSPO, dan ISPO. SSMS juga menyatakan memiliki pasokan TBS yang dapat ditelusuri serta menerapkan pendekatan menuju zero waste.

Pada sisi hilir, SSMS menghubungkan perkebunan dengan fasilitas pengolahan dan pengembangan produk bernilai tambah. Perusahaan menyebut proses CPO menuju produk turunannya dapat dilakukan dalam waktu sekitar 1,5 jam. Produk tersebut kemudian diarahkan untuk memasuki pasar dengan nilai tambah yang lebih tinggi.


Baca Juga: Kupas Tuntas Strategi Sukses Bertani dan Prospek Menggiurkan Bisnis Jahe 2025: Standardisasi dan Penerapan GAP Jadi Kunci Daya Saing Global

Hartono menilai penguatan hilirisasi harus dibarengi dengan kinerja sektor hulu yang kuat. Menurutnya, pengembangan produk hilir tidak akan optimal apabila produktivitas perkebunan sebagai sumber bahan bakunya belum berjalan dengan baik.

Karena itu, riset dan pengembangan menjadi salah satu perhatian SSMS. Perusahaan memiliki Sulung Research Station yang dikembangkan untuk menghasilkan inovasi bagi kebutuhan perkebunan, termasuk pengembangan biofertilizer dan teknologi yang berkaitan dengan proses penyerbukan tanaman kelapa sawit.

Hartono mengatakan, pengembangan riset diperlukan untuk menjawab berbagai tantangan yang masih ditemukan dalam budidaya kelapa sawit. Salah satunya berkaitan dengan produktivitas tanaman dan proses pembentukan buah.

Dalam pemaparannya, Hartono menyebut produktivitas CPO SSMS dapat mencapai sekitar 7,3 ton per hektare. Ia juga menyinggung persoalan partenokarpi, yakni kondisi ketika bunga atau buah tidak berkembang secara optimal, sebagai salah satu hal yang perlu mendapatkan perhatian melalui penelitian dan pengembangan.

SSMS berharap pengembangan riset dapat menghasilkan inovasi tanaman yang mampu menghadapi persoalan di perkebunan, termasuk tantangan Ganoderma serta peningkatan kemampuan tanaman dalam menghasilkan bunga jantan untuk mendukung proses penyerbukan.

“Hilirisasi is no use kalau hulunya nggak perform. Makanya kita akan R&D,” ujar Hartono.

Konsep bioekonomi sirkular SSMS juga diarahkan pada pemanfaatan hasil samping dari proses produksi. Dalam materi yang dipaparkan, perusahaan mengembangkan pemanfaatan berbagai bagian kelapa sawit untuk kebutuhan yang lebih luas, termasuk bahan organik, energi terbarukan, biomassa, serta berbagai material dan produk bernilai tambah.

Pendekatan tersebut membuat rantai produksi kelapa sawit tidak hanya berorientasi pada produk utama berupa CPO. Hasil samping dari perkebunan dan pengolahan dapat kembali dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan produksi maupun dikembangkan menjadi sumber nilai ekonomi baru.

Bagi SSMS, integrasi antara produktivitas perkebunan, peternakan, pengolahan, riset, dan pemanfaatan hasil samping menjadi bagian dari upaya membangun bioekonomi sirkular berbasis kelapa sawit. Dengan memperkuat fondasi di sektor hulu sekaligus mengembangkan produk bernilai tambah di sisi hilir, ekosistem kelapa sawit dapat dimanfaatkan secara lebih menyeluruh.

Berita Terkait

WAJIB DICICIPI : DURIAN BAWOR ASLI BANYUMAS

  • 18 September 2026, 10:16 AM

Kementan Perluas Areal Tanam Bawang Putih di Lereng Gunung Wilis Tulungagung

  • 18 September 2026, 10:16 AM

Awal Kisah Pisang Mas Tanggamus Go Internasional

  • 18 September 2026, 10:16 AM

Brebes Panen Bawang Merah Setiap Hari

  • 18 September 2026, 10:16 AM

Berita Terpopuler

  • Keren, Aplikasi Ini Bisa Identifikasi Aneka Jenis Tanaman
    22 Januari 2019, 11:45 AM
  • Kenali Ragam Jenis Alpukat: Mentega, Miki, sampai Kendil
    07 Mei 2024, 1:00 PM
  • Kenali Tiga Tahap Fase Pertumbuhan Tanaman Jagung
    18 Maret 2024, 10:53 AM
  • 10 Jenis Durian Terpopuler di Indonesia, Enak dan Legit!
    01 Oktober 2024, 3:58 PM
  • Cara Menanam Pohon Mangga dan Tips Agar Cepat Berbuah
    29 April 2024, 11:31 AM
  • VARIETAS KENTANG YANG COCOK DIOLAH JADI KERIPIK
    06 November 2019, 4:25 PM
  • Menanam Stroberi dengan Sistem Hidroponik
    11 September 2018, 11:23 AM
  • DIRIKAN INDUSTRI OLAHAN HORTIKULTURA UNTUK PRODUK GRADE RENDAH YANG TIDAK LAKU DI PASAR SEGAR
    19 Agustus 2024, 6:53 PM
  • Sunpride Pecahkan Rekor MURI untuk Pajangan Pisang Terbanyak
    02 Juni 2024, 5:11 PM
  • PEMULIAAN UNTUK HASILKAN VUB JERUK
    18 Juni 2024, 1:11 AM

Kategori Berita

  • Buah
  • Sayur
  • Herbal
  • Tanaman Hias
  • Gaya Hidup
  • Tips & Trik
  • InovTek
  • Jelajah
  • Sosok
  • Etalase
© Hortikultura Indonesia 2018 - 2026. All Right Reserved