• Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Profil
    Redaksi Hubungi Kami
  • Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Tentang Kami
  • Sejarah
  • Hubungi Kami
  1. Beranda
  2. Berita
  3. Irigasi Tetes Bantu Optimalkan Budidaya Lidah Buaya di KWT Sumber Rejeki

Irigasi Tetes Bantu Optimalkan Budidaya Lidah Buaya di KWT Sumber Rejeki

  • 20 Agustus 2026, 10:46 AM
  • InovTek
  • HORTI INDONESIA

Bantul. hortiindonesia.com — Budidaya lidah buaya membutuhkan pengelolaan air yang tepat. Meskipun dikenal sebagai tanaman yang tahan terhadap kondisi kering, lidah buaya tetap membutuhkan ketersediaan air yang teratur untuk menghasilkan pelepah yang tebal, berdaging, dan memiliki kandungan gel yang tinggi. Sebaliknya, pemberian air secara berlebihan justru dapat meningkatkan risiko pembusukan akar.

Kondisi tersebut mendorong penerapan sistem irigasi tetes pada budidaya lidah buaya yang dilakukan oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Sumber Rejeki, Desa Ngestiharjo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Program tersebut merupakan bagian dari kegiatan Program Desa Binaan (PDB) Institut Pertanian Stiper (INSTIPER) Yogyakarta yang mendapatkan hibah dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kemdiktisaintek selama periode 2024–2026.

Ketua program pengabdian masyarakat, Dr. Ngatirah, menjelaskan bahwa penerapan irigasi tetes dipilih karena karakter tanaman lidah buaya membutuhkan keseimbangan antara kecukupan air dan kondisi media tanam yang tidak terlalu basah.

“Lidah buaya adalah tanaman sukulen yang sangat sensitif terhadap kelebihan air (waterlogging), tetapi tetap membutuhkan kelembapan yang teratur untuk menghasilkan pelepah yang tebal, berdaging tebal, dan bergel (gel content tinggi),” jelas Dr. Ngatirah.

Lidah Buaya Butuh Air, tetapi Tidak Boleh Berlebihan

Lidah buaya termasuk tanaman sukulen yang memiliki kemampuan beradaptasi terhadap kondisi kering. Tanaman ini juga memiliki metabolisme Crassulacean Acid Metabolism (CAM), yang membuat stomata membuka pada malam hari untuk mengurangi kehilangan air akibat penguapan.

Namun, kemampuan tersebut bukan berarti lidah buaya tidak membutuhkan air. Ketersediaan air tetap berperan dalam pembentukan gel pada pelepah.

Dalam budidayanya, tanaman lidah buaya membutuhkan pola basah dan kering. Media tanam sebaiknya tidak terus-menerus dalam kondisi basah, tetapi diberikan kesempatan untuk sedikit mengering sebelum kembali mendapatkan air.

“Penyiraman berlebihan (overwatering) lebih berbahaya daripada kekurangan air karena dapat memicu busuk akar (root rot)," kata Dr. Ngatirah.

Karakter tersebut membuat sistem irigasi tetes dinilai sesuai untuk budidaya lidah buaya. Air dapat diberikan langsung ke area perakaran dengan debit yang terukur sehingga kelembapan media dapat dipertahankan tanpa membuat lahan tergenang.

Air Disalurkan Langsung ke Zona Akar

Secara umum, sistem irigasi tetes yang diterapkan terdiri atas beberapa bagian utama, yaitu sumber air dan pompa, sistem penyaringan, tangki fertigasi, serta jaringan pipa utama dan pipa lateral.

Air dari sumber utama dialirkan menggunakan pompa untuk menjaga tekanan dalam jaringan. Sebelum masuk ke jaringan irigasi, air melewati sistem penyaringan yang terdiri dari hydrocyclone filter dan filter Y.

Hydrocyclone filter berfungsi memisahkan pasir atau partikel berat dari air, sedangkan filter Y digunakan untuk menyaring partikel yang lebih kecil agar tidak menyumbat lubang tetes atau emitter.

Selanjutnya, air dapat masuk ke tangki fertigasi apabila diperlukan pemberian nutrisi melalui air irigasi. Dari sistem tersebut, air kemudian dialirkan melalui pipa utama menuju pipa-pipa lateral yang berada di sekitar tanaman.

Menurut Dr. Ngatirah, sistem tersebut memungkinkan pemberian air dilakukan secara lebih presisi. "Sistem irigasi tetes sangat ideal diterapkan pada tanaman lidah buaya karena debit air dapat diatur secara presisi (misalnya 1–2 liter per jam per emitter), sehingga tanah mendapat kelembapan yang cukup di zona akar tanpa membuat tanah menjadi becek/tergenang,” ujarnya.

Diterapkan pada 300 Tanaman Lidah Buaya

Penerapan irigasi tetes di KWT Sumber Rejeki dilakukan pada tanaman lidah buaya yang dibudidayakan dalam pot dengan jarak antarpot sekitar 60 cm.

Sistem tersebut dilengkapi dengan tangki penampungan air atau toren berkapasitas 1.000 liter, jaringan pipa PVC, pompa air, serta stop valve untuk mengatur distribusi air.

Dari pipa utama, air dialirkan menuju pipa lateral berbahan polyethylene (PE) yang dipasang di antara barisan tanaman. Setiap pot kemudian dilengkapi dengan drip emitter yang ditempatkan pada zona perakaran.

Dengan sistem tersebut, air tidak disemprotkan ke bagian pelepah, melainkan diteteskan langsung ke media tanam.

Untuk penerapannya di KWT Sumber Rejeki, setiap tanaman mendapatkan alokasi air sebesar 0,3 liter per sesi. Dengan total populasi mencapai 300 tanaman, volume air yang didistribusikan dalam satu sesi mencapai sekitar 300 liter.


Baca Juga: PERSYARATAN EKSPOR MANGGIS KE CHINA SANGAT KETAT

Penyiraman dilakukan sebanyak tiga kali sehari, yakni pukul 08.00 WIB, 12.00 WIB, dan 16.00 WIB. Setiap sesi berlangsung selama sekitar sembilan menit.

“Irigasi tetes memberikan air langsung ke zona perakaran di dalam tanah, menjaga area sekitar pelepah tetap kering. Pemberian air dapat diatur secara presisi (volume dan waktunya),” jelasnya.

 

Pertumbuhan Tanaman Lebih Terjaga

Penerapan pola penyiraman secara presisi menunjukkan hasil positif terhadap kondisi tanaman di lahan KWT Sumber Rejeki.

Tanaman lidah buaya terlihat tumbuh subur dengan pelepah yang tebal dan berdaging. Warna tanaman juga tampak hijau segar. Pemberian air secara terukur turut membantu mengurangi risiko busuk akar akibat penyiraman berlebihan.

Bagi KWT Sumber Rejeki, penerapan teknologi tersebut tidak hanya menjadi solusi teknis dalam penyiraman, tetapi juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan efisiensi budidaya.

Dr. Ngatirah mengatakan teknologi sederhana seperti irigasi tetes dapat memberikan manfaat besar ketika disesuaikan dengan karakter tanaman dan kebutuhan petani.

Lebih Hemat Air dan Bisa Sekaligus Memupuk

Salah satu keunggulan irigasi tetes adalah kemampuannya mengurangi kehilangan air. Air diberikan langsung menuju zona akar sehingga potensi kehilangan akibat penguapan maupun limpasan dapat ditekan.

Sistem ini juga memungkinkan penerapan fertigasi, yakni pemberian pupuk melalui aliran air irigasi. Pupuk organik cair maupun nutrisi makro dan mikro dapat dilarutkan kemudian dialirkan bersama air menuju tanaman.

Dengan cara tersebut, pemberian nutrisi dapat dilakukan secara lebih merata sesuai kebutuhan tanaman.

“Tanaman lidah buaya dapat menyerap nutrisi dengan lebih cepat dan merata tanpa risiko pembakaran akar akibat dosis pupuk berlebih.” jelas Dr. Ngatirah.

Menjaga Kualitas Pelepah Lidah Buaya

Manfaat lain dari sistem irigasi tetes adalah membantu menjaga kebersihan pelepah. Karena air tidak disemprotkan ke bagian daun atau pelepah, risiko munculnya bercak air, endapan tanah maupun penyebaran penyakit melalui percikan air dapat diminimalkan.

Hal tersebut menjadi penting karena pelepah merupakan bagian utama tanaman lidah buaya yang dimanfaatkan untuk menghasilkan gel.

Dengan demikian, sistem irigasi tetes tidak hanya berkaitan dengan efisiensi penggunaan air, tetapi juga dapat mendukung kualitas hasil budidaya.

Teknologi Sederhana untuk Pertanian yang Lebih Efisien

Pengalaman KWT Sumber Rejeki menunjukkan bahwa penerapan teknologi tepat guna dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan efisiensi budidaya tanaman.

Melalui sistem irigasi tetes, pemberian air dapat dikendalikan berdasarkan kebutuhan tanaman, sementara risiko kelebihan air dapat ditekan. Sistem tersebut juga dapat dikombinasikan dengan fertigasi sehingga pengelolaan air dan nutrisi dapat dilakukan dalam satu jaringan.

Program yang dijalankan melalui PDB INSTIPER Yogyakarta tersebut diharapkan tidak berhenti pada penerapan teknologi di satu kelompok tani. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh KWT Sumber Rejeki dapat menjadi pembelajaran bagi kelompok tani lain yang mengembangkan komoditas serupa.

“Penerapan skema penyiraman presisi ini memberikan hasil yang sangat positif. Tanaman lidah buaya tumbuh subur, pelepah terlihat tebal dan berdaging (fleshy), warna daun hijau segar, serta terbebas dari risiko busuk akar (root rot) akibat penyiraman berlebih," pungkas Dr. Ngatirah.

Berita Terkait

WAJIB DICICIPI : DURIAN BAWOR ASLI BANYUMAS

  • 20 Agustus 2026, 10:46 AM

Kementan Perluas Areal Tanam Bawang Putih di Lereng Gunung Wilis Tulungagung

  • 20 Agustus 2026, 10:46 AM

Awal Kisah Pisang Mas Tanggamus Go Internasional

  • 20 Agustus 2026, 10:46 AM

Brebes Panen Bawang Merah Setiap Hari

  • 20 Agustus 2026, 10:46 AM

Berita Terpopuler

  • Keren, Aplikasi Ini Bisa Identifikasi Aneka Jenis Tanaman
    22 Januari 2019, 11:45 AM
  • Kenali Ragam Jenis Alpukat: Mentega, Miki, sampai Kendil
    07 Mei 2024, 1:00 PM
  • Kenali Tiga Tahap Fase Pertumbuhan Tanaman Jagung
    18 Maret 2024, 10:53 AM
  • 10 Jenis Durian Terpopuler di Indonesia, Enak dan Legit!
    01 Oktober 2024, 3:58 PM
  • Cara Menanam Pohon Mangga dan Tips Agar Cepat Berbuah
    29 April 2024, 11:31 AM
  • VARIETAS KENTANG YANG COCOK DIOLAH JADI KERIPIK
    06 November 2019, 4:25 PM
  • Menanam Stroberi dengan Sistem Hidroponik
    11 September 2018, 11:23 AM
  • DIRIKAN INDUSTRI OLAHAN HORTIKULTURA UNTUK PRODUK GRADE RENDAH YANG TIDAK LAKU DI PASAR SEGAR
    19 Agustus 2024, 6:53 PM
  • Sunpride Pecahkan Rekor MURI untuk Pajangan Pisang Terbanyak
    02 Juni 2024, 5:11 PM
  • PEMULIAAN UNTUK HASILKAN VUB JERUK
    18 Juni 2024, 1:11 AM

Kategori Berita

  • Buah
  • Sayur
  • Herbal
  • Tanaman Hias
  • Gaya Hidup
  • Tips & Trik
  • InovTek
  • Jelajah
  • Sosok
  • Etalase
© Hortikultura Indonesia 2018 - 2026. All Right Reserved