• Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Profil
    Redaksi Hubungi Kami
  • Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Tentang Kami
  • Sejarah
  • Hubungi Kami
  1. Beranda
  2. Berita
  3. Panduan Sukses Budidaya Jahe: Terapkan GAP untuk Hasil Maksimal!

Panduan Sukses Budidaya Jahe: Terapkan GAP untuk Hasil Maksimal!

  • 08 April 2025, 9:03 AM
  • Herbal
  • HORTI INDONESIA

Jakarta, hortiindonesia.com - Jahe merupakan salah satu komoditas unggulan yang memiliki nilai ekonomi tinggi di Indonesia. Menurut Dr. Ir. Yuli Widyastuti, M.P., Peneliti Ahli Utama dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), terdapat tiga varietas jahe yang umum dibudidayakan oleh masyarakat, yaitu jahe putih besar, jahe putih kecil, dan jahe merah. Secara global, jahe memiliki permintaan yang tinggi dengan total perdagangan di pasar dunia yang diperkirakan mencapai 5,2 miliar dolar AS pada tahun 2025. Kebutuhan jahe tidak hanya untuk minuman kesehatan, tetapi juga sebagai bahan baku obat, minyak atsiri, dan industri parfum.

“Secara global jahe merupakan tumbuhan yang sangat dibutuhkan dan total perdagangannya di pasar dunia pada tahun 2025 mencapai $5.2 billion. Prospek pasar jahe sangat besar yang didorong oleh beberapa permintaan dan sangat variatif tidak hanya untuk minuman kesehatan, tetapi juga untuk bahan baku obat, industri minyak atsiri dan industri parfum,” terang Yuli.

Jahe berasal dari wilayah Asia Pasifik yang tersebar dari India hingga China, kemudian menyebar ke daerah tropis lain termasuk Indonesia. Jahe dapat tumbuh di berbagai daerah di Indonesia, dan hasil Riset Tumbuhan Obat dan Jamu yang dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan pada tahun 2012, 2015 dan 2017 menunjukkan bahwa tanaman ini digunakan dalam ramuan obat tradisional oleh 204 etnis di Indonesia dari Sabang hingga Merauke.

Budidaya jahe tergolong mudah namun memerlukan beberapa persyaratan tumbuh tertentu. Tanaman ini menyukai tempat terbuka dan memperoleh banyak sinar matahari, dengan tanah jenis latosol dan andosol yang kaya bahan organik. Jahe tumbuh optimal pada ketinggian 300-900 meter di atas permukaan laut (mdpl), dengan suhu tahunan 25-30 derajat Celcius dan curah hujan 1.500-3.000 mm/tahun. Tingkat keasaman tanah (pH) idealnya berada di rentang 5-7 dengan penyesuaian menggunakan kapur pertanian atau dolomit jika pH tanah terlalu rendah.

Selain itu, dalam budidaya jahe harus diperhatikan rotasi tanaman untuk mencegah penyebaran penyakit. Sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) dari Kementerian Pertanian, jahe sebaiknya tidak ditanam di lahan bekas tanaman kacang-kacangan dan terong-terongan (Solanaceae), terutama jika lahan tersebut memiliki riwayat penyakit layu bakteri. Lahan yang telah terkena penyakit layu sebaiknya dibiarkan selama lebih dari lima tahun sebelum digunakan kembali untuk menanam jahe.

Penerapan Good Agricultural Practices (GAP) sangat penting dalam budidaya jahe untuk memastikan keamanan dan kualitas produk. GAP menjamin bahwa produk jahe bebas dari cemaran mikroba dan logam berat, memiliki kandungan senyawa aktif yang stabil, memenuhi kuantitas produksi yang optimal, serta menjaga keberlanjutan budidaya.

Persiapan Benih dan Teknik Penanaman

Benih jahe yang berkualitas harus bersertifikasi atau berasal dari tanaman yang telah berumur lebih dari sembilan bulan, matang, dan bebas dari penyakit. Persemaian dapat dilakukan di lahan terbuka atau dalam karung. Sebelum penanaman, lahan harus dibersihkan dari gulma dan diolah hingga gembur dengan tambahan pupuk organik berbasis Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA).

“Pemilihan bibit mengacu pada bibit bersertifikasi kalaupun tidak bisa diusahakan mandiri oleh petani, maka petani dapat menggunakan bibit jahe dari jahe yang benar - benar sudah tua berusia lebih dari 9 bulan, masak, dan bebas dari penyakit,” ujarnnya.

Jahe dapat ditanam dengan berbagai sistem penanaman seperti tumpang sari, monokultur, dan dalam pot atau polybag. Sistem monokultur memudahkan pemeliharaan sedangkan tumpang sari memungkinkan petani mendapatkan tambahan pendapatan dari tanaman lain. Dalam proses penanaman, mata tunas harus diletakkan dengan posisi horizontal agar tidak membusuk.

Langkah-langkah teknis penanaman yang baik meliputi:


    Baca Juga: BRIN : LOSSES HORTIKULTURA 35%

  1. Membuat lubang tanam dengan kedalaman sekitar 5 cm
  2. Meletakkan bibit secara horizontal dengan tunas menghadap ke atas
  3. Menimbun bibit dengan tanah gembur dan menyiram hingga lembab
  4. Menutup dengan mulsa organik seperti alang-alang, sekam masak, atau daun lamtoro

Pemeliharaan dan Pencegahan Penyakit

Pemeliharaan utama dalam budidaya jahe meliputi penyiangan untuk mengurangi persaingan dengan gulma, serta pembumbunan agar rimpang tidak terkena sinar matahari yang dapat menyebabkan perubahan warna. Pembumbunan dilakukan dengan cara pendangiran menggunakan alat mekanis seperti garpu untuk menjaga aerasi tanah tanpa melukai rimpang.

Pengendalian penyakit sangat penting karena lingkungan yang lembab dapat mempercepat penyebaran infeksi. Jika tanaman terkena penyakit, harus segera dilakukan skarifikasi atau pembuangan tanaman yang terinfeksi agar tidak menyebar ke tanaman sehat.

“Pemeliharaan jahe yang paling utama yaitu melakukan penyiangan, untuk menekan adanya kompetisi terhadap hara antara gulma dan tanaman lainnya. Pembumbunan juga sangat penting karena kalau rimpang sampai keluar dari tanah dan terkena sinar matahari maka akan mengakibatkan perubahan warna rimpang dari kuning menjadi hijau dan menurunkan kualitas,” katanya.

Panen dan Pengolahan Pasca Panen

Pengolahan pasca panen menjadi faktor penting dalam menjaga mutu jahe, terutama untuk kebutuhan industri jamu dan farmasi yang memerlukan jahe dalam bentuk kering. Pengeringan harus dilakukan dengan standar tertentu untuk memastikan kualitas tetap terjaga. Pemotongan rimpang jahe sebaiknya mengikuti arah serat agar rendemen minyak atsiri yang dihasilkan lebih tinggi dibandingkan dengan pemotongan tegak lurus.

Dengan prospek pasar yang besar dan teknik budidaya yang relatif mudah, jahe menjadi komoditas yang menjanjikan bagi petani Indonesia. Penerapan teknologi budidaya yang baik serta kepatuhan terhadap standar GAP dapat meningkatkan kualitas dan produktivitas tanaman jahe sehingga mampu bersaing di pasar global. Ke depan, optimalisasi budidaya jahe yang berkelanjutan akan semakin berperan dalam mendukung ketahanan pangan dan perekonomian nasional.

Berita Terkait

WAJIB DICICIPI : DURIAN BAWOR ASLI BANYUMAS

  • 08 April 2025, 9:03 AM

Kementan Perluas Areal Tanam Bawang Putih di Lereng Gunung Wilis Tulungagung

  • 08 April 2025, 9:03 AM

Awal Kisah Pisang Mas Tanggamus Go Internasional

  • 08 April 2025, 9:03 AM

Brebes Panen Bawang Merah Setiap Hari

  • 08 April 2025, 9:03 AM

Berita Terpopuler

  • Keren, Aplikasi Ini Bisa Identifikasi Aneka Jenis Tanaman
    22 Januari 2019, 11:45 AM
  • Kenali Ragam Jenis Alpukat: Mentega, Miki, sampai Kendil
    07 Mei 2024, 1:00 PM
  • Kenali Tiga Tahap Fase Pertumbuhan Tanaman Jagung
    18 Maret 2024, 10:53 AM
  • 10 Jenis Durian Terpopuler di Indonesia, Enak dan Legit!
    01 Oktober 2024, 3:58 PM
  • Cara Menanam Pohon Mangga dan Tips Agar Cepat Berbuah
    29 April 2024, 11:31 AM
  • VARIETAS KENTANG YANG COCOK DIOLAH JADI KERIPIK
    06 November 2019, 4:25 PM
  • Menanam Stroberi dengan Sistem Hidroponik
    11 September 2018, 11:23 AM
  • DIRIKAN INDUSTRI OLAHAN HORTIKULTURA UNTUK PRODUK GRADE RENDAH YANG TIDAK LAKU DI PASAR SEGAR
    19 Agustus 2024, 6:53 PM
  • Sunpride Pecahkan Rekor MURI untuk Pajangan Pisang Terbanyak
    02 Juni 2024, 5:11 PM
  • PEMULIAAN UNTUK HASILKAN VUB JERUK
    18 Juni 2024, 1:11 AM

Kategori Berita

  • Buah
  • Sayur
  • Herbal
  • Tanaman Hias
  • Gaya Hidup
  • Tips & Trik
  • InovTek
  • Jelajah
  • Sosok
  • Etalase
© Hortikultura Indonesia 2018 - 2026. All Right Reserved