• Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Profil
    Redaksi Hubungi Kami
  • Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Tentang Kami
  • Sejarah
  • Hubungi Kami
  1. Beranda
  2. Berita
  3. PERUBAHAN IKLIM PENGARUHI HORTIKULTURA

PERUBAHAN IKLIM PENGARUHI HORTIKULTURA

  • 18 Agustus 2021, 11:27 PM
  • Sayur, Kilas

Bogor, Hortiindonesia.com

Kondisi iklim saat ini dibanding puluhan tahun yang lalu adalah suhu semakin panas, musim tidak menentu, curah hujan berubah kadang tinggi kadan rendah, kondisi iklim ekstrim semakin sering, musim kering semakin panjang, forst di Dieng semakin sering. “Artinya perubahan iklim sudah dirasakan masyarakat,” kata Syamsu Dwi Jadmiko dari Center for Climate Risk and Opportunity Managenent in Southeast Asia and Pacific, IPB University.

Perubahan iklim berdampak pada meningkatnya curah hujan di musim penghujan dan berkurangnya curah hujan di musim kemarau. Deret hari kering maksimum diproyeksikan akan meningkat terutama pada musim kemarau.

Pola hujan Pulau Jawa Bali  diperkirakan akan berubah sampai 2050. Panjang musim hujan cenderung lebih pendek, intensitas hujan pada musim hujan meningkat dan musim kemarau semakin kering. Diperkirakan di masa depan awal musim hujan di Jawa dan Bali cenderung mundur dan berakhir lebih cepat, dan intensitas hujan di MH cenderung meningkat.

Perbandingan Sumatera tahun 1961-1990 dan 1991-2003 menunjukkan awal musim hujan mundur hampir di semua wilayah. Awal musim kering di bagian Barat Sumatera maju sementara di bagian timur mundur antara 10-60 hari.

Perubahan iklim pada hortikultura akan berdampak langsung dan tidak langsung.  Dampak langsung adalah gagal panen akibat kekeringan dan banjir; penurunan hasil karena kondisi cuaca yang sering tidak menguntungkan. Contohnya pada kentang turunnya viabilitas benih karena hujan tipuan (false rain) yang semakin sering terjadi.


Baca Juga: PTPN Group Kembangkan 10.000 Hektare Bawang Putih di Jawa Barat, Dukung Swasembada Nasional

Dampak tidak langsung meningkatnya serangan hama penyakit, ketersediaan input (kompetisi dengan komoditi lain), perubahan harga yang semakin sering tidak menentu karena pola perubahan iklim yang tidak sama antar wilayah atau antar negara.

Survey pada petani kentang di Pangalengan tahun 2004 menunjukan kendala utama usaha tani adalah harga tidak menentu, setelah itu perubahan iklim, hama penyakit, harga input tinggi baru kualitas benih yang rendah. Sedang pada petani cabe yang paling tinggi adalah harga tidak menentu dan hama penyakit, baru perubahan iklim, selanjutnya harga input yang tinggi.

Kondisi iklim yang memicu serangan hama dan penyakit kentang di Pangalengan adalah lalat bibit yang dipicu oleh penanaman menjelang musim kemarau; thrips dipicu musim kemarau dengan intensitas radiasi tinggi;  Phyhtoptora sp dipicu musim hujan dengan curah hujan sangat tinggi, terutama Januari dan Februari dengan hujan 400-500 mm/bulan; Leaf blight dipicu hujan berkepajangan (deret hari basah panjang), siang panas tetapi malam hari hujan rintik dan berkabut, musim kemarau dan embun di malam hari.

Masalah false rain petani kentang Pangalengan adalah hujan pada awal September atau Oktober memicu petani mulai tanam karena asumsi MH sudah mulai padahal belum sehingga pertumbuhan awal terganggu. Kalau MH mundur dan tidak terjadi false rain. benih dari musim ceboran tersimpan terlalu lama (lebih dari 3 bulan) sehingga viabilitas turun.

Perubahan iklim menyebabkan terjadinya perubahan jenis hama dan penyakit dominan. Temuan Nastari dan kilinik tanaman IPB (2007) penyakit keriting daun pada bawang merah yang disebabkan penyakit Fusarium oxysporum sebelum tahun 1997 tidak penting tetapi sekarang menjadi penting tidak saja di dataran rendah tetapi dataran tinggi.

Penyakit gemini pada cabe yang disebabkan oleh virus dan ditularkan kutu kebul (Bemisa tabaci) dalam lima tahun terakhir juga sudah menyerang pusat produksi cabe dan kentang di Jawa seperti Bogor, Cianjur, Brebes, Wonosobo, Magelang, Klaten, Boyolali, Kulonprogo, Blitar dan Tulungagung. Sementara riset tentang penyakit ini masih terbatas.

Temuan Wiyono  2007, penyakit keriting daun dalam beberapa tahun terakhir telah menghancurkan bawang merah di Brebes.

Berita Terkait

WAJIB DICICIPI : DURIAN BAWOR ASLI BANYUMAS

  • 18 Agustus 2021, 11:27 PM

Kementan Perluas Areal Tanam Bawang Putih di Lereng Gunung Wilis Tulungagung

  • 18 Agustus 2021, 11:27 PM

Awal Kisah Pisang Mas Tanggamus Go Internasional

  • 18 Agustus 2021, 11:27 PM

Brebes Panen Bawang Merah Setiap Hari

  • 18 Agustus 2021, 11:27 PM

Berita Terpopuler

  • Keren, Aplikasi Ini Bisa Identifikasi Aneka Jenis Tanaman
    22 Januari 2019, 11:45 AM
  • Kenali Ragam Jenis Alpukat: Mentega, Miki, sampai Kendil
    07 Mei 2024, 1:00 PM
  • Kenali Tiga Tahap Fase Pertumbuhan Tanaman Jagung
    18 Maret 2024, 10:53 AM
  • 10 Jenis Durian Terpopuler di Indonesia, Enak dan Legit!
    01 Oktober 2024, 3:58 PM
  • Cara Menanam Pohon Mangga dan Tips Agar Cepat Berbuah
    29 April 2024, 11:31 AM
  • VARIETAS KENTANG YANG COCOK DIOLAH JADI KERIPIK
    06 November 2019, 4:25 PM
  • Menanam Stroberi dengan Sistem Hidroponik
    11 September 2018, 11:23 AM
  • DIRIKAN INDUSTRI OLAHAN HORTIKULTURA UNTUK PRODUK GRADE RENDAH YANG TIDAK LAKU DI PASAR SEGAR
    19 Agustus 2024, 6:53 PM
  • Sunpride Pecahkan Rekor MURI untuk Pajangan Pisang Terbanyak
    02 Juni 2024, 5:11 PM
  • PEMULIAAN UNTUK HASILKAN VUB JERUK
    18 Juni 2024, 1:11 AM

Kategori Berita

  • Buah
  • Sayur
  • Herbal
  • Tanaman Hias
  • Gaya Hidup
  • Tips & Trik
  • InovTek
  • Jelajah
  • Sosok
  • Etalase
© Hortikultura Indonesia 2018 - 2026. All Right Reserved